​Dies Natalis ke-72 UM, Wamendiktisaintek Dorong Kampus Lahirkan Pencipta Kerja

Malang,  Bhirawa– Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., saat menghadiri dies natalis 72 Universitas Negeri Malang, (UM) di. Graha Cakrawala, Minggu 18/10.  menekankan urgensi pergeseran paradigma pendidikan tinggi agar institusi kampus tidak sekadar berorientasi mencetak lulusan dan mengembangkan teori semata. Kampus dituntut menjadi episentrum inovasi serta mencetak sumber daya manusia (SDM) yang mampu menciptakan lapangan kerja.

​Fauzan menyoroti fakta di lapangan terkait masih adanya kontribusi lulusan sarjana terhadap persentase angka pengangguran. Fenomena ini, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah nyata bagi seluruh perguruan tinggi untuk merekayasa kurikulum dan sistem pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan dinamika industri.

​”Pendidikan tinggi tidak boleh hanya sekadar mengajari tentang sesuatu, kalau hanya diajari tentang renang, belum tentu orang itu bisa berenang. Berbeda halnya jika langsung diajari berenang, maka ia memiliki kecakapan praktis,” tutur mantan Rektor UMM tersebut.

​Ia menambahkan, keluaran perguruan tinggi harus membawa dampak terukur dan bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat. Untuk mewujudkan ekosistem wirausaha di kalangan akademisi, sinergi pentahelix antara perguruan tinggi, sektor industri, dan pemangku kebijakan pemerintah mutlak diperkuat.

​Menanggapi arahan tersebut, Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyatakan kesiapan jajarannya melalui implementasi konsep pendidikan emansipatoris. Pendekatan ini tidak hanya menajamkan kecakapan teknis, melainkan juga memperkuat kompetensi sosial serta daya tahan adaptasi civitas akademika di tengah arus disrupsi.

​”Seluruh elemen perguruan tinggi, baik tenaga pendidik, kependidikan, maupun mahasiswa, harus berani mereformasi cara pandang. Ketika kita resistan atau tidak mampu melakukan perubahan paradigma dalam cara berpikir, di situlah ancaman kemunduran institusi,” tegas Hariyono.

​Hariyono mencontohkan transformasi cepat pada lanskap media massa, di mana media cetak banyak beralih ke platform digital berbasis internet karena dinamika pola konsumsi pembaca. Ketidakmampuan beradaptasi pada perubahan pola tersebut dipastikan membuat suatu entitas tertinggal.

​Di sisi lain, reformasi cara berpikir tersebut juga diwujudkan UM dalam kebijakan operasional ramah lingkungan. Salah satunya melalui substitusi karangan bunga papan dalam seremoni resmi dengan tanaman bunga pot hidup, sehingga dapat dirawat berkelanjutan dan meminimalkan residu sampah upacara.

​Melalui momentum pertambahan usia ke-72 tahun ini, Universitas Negeri Malang berkomitmen terus memperkokoh perannya sebagai kampus yang adaptif, menghasilkan riset aplikatif, serta mencetak lulusan yang relevan menjawab kebutuhan bangsa.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *