Kota Malang, Bhirawa-Riset di lingkungan pergurua tinggi kerap dinilai terjebak pada capaian administratif belaka yang berujung tumpukan dokumen di rak jurnal. Menanggapi paradigma lama tersebut, Universitas Negeri Malang (UM) terus mendorong transformasi tata kelola penelitian agar setiap kajian akademik mampu menjadi inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat maupun sektor industri.
Pustakawan Ahli Madya UM, Teguh, menekankan bahwa publikasi ilmiah di jurnal bereputasi sejatinya bukanlah garis finis dari suatu penelitian, melainkan pintu gerbang awal dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan.
”Riset perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti ketika hasil penelitian dipublikasikan. Publikasi merupakan awal dari proses pemanfaatan pengetahuan agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi inovasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Teguh saat dikonfirmasi, Jumat 16/10.
Menurutnya, perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral sekaligus sosial untuk memastikan setiap produk pengetahuan dapat diakses, dikembangkan, serta diaplikasikan oleh pihak-pihak yang membutuhkan.
Dalam membangun ekosistem riset yang kokoh, UM mengintegrasikan berbagai pilar, mulai dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga peran strategis perpustakaan.
Teguh menjelaskan, peran perpustakaan era kini telah bertransformasi dari sekadar penyedia buku menjadi simpul utama pengetahuan (knowledge hub). Perpustakaan berfungsi mengelola repositori, memetakan tren riset, hingga mendiseminasikan hasil kajian ke publik agar tidak menjadi data pasif.
”Perpustakaan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung siklus penelitian. Tidak hanya menyediakan sumber informasi, perpustakaan juga memastikan hasil penelitian terdokumentasi dengan baik, mudah ditemukan, dan dapat dimanfaatkan kembali untuk mengembangkan pengetahuan baru,” tuturnya.
Selain repositori data, Sentra HKI menjadi jembatan penting untuk hilirisasi hasil riset ke dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Kendati demikian, Teguh menggarisbawahi bahwa hilirisasi tidak selalu bermakna komersialisasi skala besar atau teknologi mutakhir. Keberhasilan riset sosial yang memberdayakan UMKM, meningkatkan literasi digital desa, dan memperbaiki kebijakan publik juga merupakan bentuk hilirisasi yang bernilai tinggi.
”Dampak penelitian tidak selalu hadir dalam bentuk produk komersial atau paten. Ketika pengetahuan membantu UMKM naik kelas, masyarakat memperoleh akses informasi yang lebih baik, atau sebuah komunitas mandiri menyelesaikan persoalannya, di situ riset telah memberikan nilai nyata,” paparnya.
Lebih lanjut, ia mendorong agar riset-riset kampus terintegrasi secara substantif dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), bukan sekadar tempelan formalitas di proposal atau laporan akhir.
”Tantangan terbesar kita adalah memastikan pengetahuan bekerja untuk kemanusiaan. Di sinilah sinergi antara peneliti, pengelola HKI, dan pustakawan menjadi kunci terwujudnya perubahan yang berkelanjutan,” pungkasnya. mut.






