Manfaatkan Algoritma YOLOv5, Tim Airborn UMM Sabet Juara Nasional Inovasi Drone Berbasis AI

FT UMM kembali mengukuhkan eksistensinya di kancah teknologi kedirgantaraan nasional. Melalui Tim Airborn UMM

Kota Malang, Bhirawa

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) kembali mengukuhkan eksistensinya di kancah teknologi kedirgantaraan nasional. Melalui Tim Airborn UMM, para mahasiswa Kampus Putih ini sukses mengamankan Podium Juara 3 dalam ajang bergengsi Kompetisi Inovasi Drone Nasional (KIDN) 2025 kategori Drone Tetap Sasaran yang berlangsung di Lapangan Aldiron, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

​Inovasi yang diusung bukan sekadar drone biasa, melainkan pesawat nirawak yang dipersenjatai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Teknologi ini memungkinkan drone melakukan deteksi dan pelacakan target secara real-time dengan akurasi tinggi.

​Anggota Tim Airborn UMM, M. Darma Putra Ramadhan mengungkapkan, kunci keunggulan drone mereka terletak pada arsitektur sistem yang memanfaatkan algoritma deep learning YOLOv5. Agar performa maksimal, algoritma tersebut dikonversi ke format TensorRT untuk mengoptimalkan perangkat Jetson Nano sebagai “otak” komputasi visual drone.

​”Konversi ke TensorRT menjadi strategi krusial kami. Hal ini memungkinkan proses komputasi berjalan sangat cepat dan stabil tanpa membebani sistem, sehingga drone tetap responsif meski menghadapi dinamika lapangan yang berubah-ubah saat lomba,” ujar Darma saat ditemui di Lab Teknik UMM, Rabu (24/12).

​Darma menjelaskan, kecanggihan AI tersebut dipadukan dengan sistem navigasi berbasis GNSS dan GPS Lock. Hasilnya, drone mampu bergerak mandiri menuju koordinat target secara presisi. Secara teknis, drone ini memiliki kapasitas angkut (payload) hingga 3 kg, namun untuk kebutuhan kompetisi, tim melakukan penyesuaian beban sebesar 750 gram demi menjaga kestabilan manuver.

​Satu fitur yang mencuri perhatian juri adalah mekanisme target lock. Operator cukup melakukan click and drag pada layar antarmuka untuk menentukan sasaran. Begitu terkunci, drone akan bergerak otomatis mengikuti skenario misi, termasuk misi khusus yang menuntut presisi tinggi.

​”Berdasarkan pengujian internal dan hasil di lapangan, tingkat keberhasilan sistem kami mencapai angka 95 persen,” imbuhnya.

​Meski sempat terkendala waktu persiapan dan cuaca yang tidak menentu hingga harus berlatih pada malam hari di lapangan sepak bola kampus, semangat Tim Airborn tidak surut. Penilaian juri yang meliputi desain, konsep, teknologi, hingga daya tahan berhasil dilewati dengan poin memuaskan.

​Kedepan, FT UMM berkomitmen tidak berhenti di podium ini. Tim Airborn tengah menyiapkan pengembangan sistem drone berbasis cloud dan Internet of Things (IoT). Tujuannya agar drone masa depan mereka mampu menjalankan misi jarak menengah hingga jauh secara terintegrasi, sekaligus memperkuat riset AI yang adaptif di lingkungan perguruan tinggi.mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *