Plt Sekretaris Dispangtan Kota Malang, drh. Anton Pramujiono saat membuka Desiminasi Antemortem dan Postmortem penyembelihan hewan Qurban
Kota Malang, Bhirawa
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang mulai mematangkan persiapan menjelang Idul Adha 1447 H. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menggelar Diseminasi Pemeriksaan Antemortem dan Postmortem Hewan Kurban Tahun 2026 yang dilaksanakan di Hotel Tuwuh Kota Malang, Kamis (7/5) kemarin.
Kegiatan yang melibatkan unsur takmir masjid, panitia kurban, serta akademisi ini dibuka secara resmi oleh Plt Sekretaris Dispangtan Kota Malang, drh. Anton Pramujiono
Anton menyampaikan bahwa diseminasi ini merupakan implementasi nyata dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114 Tahun 2014.
”Tujuannya jelas, untuk menjamin daging kurban yang dikonsumsi masyarakat memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Kami ingin memastikan panitia kurban memiliki pengetahuan mumpuni mengenai prosedur penyembelihan hingga penanganan daging,” ujar Anton.
Untuk memperkuat pengawasan di lapangan, Dispangtan akan menerjunkan kekuatan penuh. Seluruh pegawai lapangan akan dikerahkan dan dibantu oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi sebagai tenaga pemeriksa tambahan.
”Nanti pada hari Idul Adha sampai hari Tasyrik, kami akan dibantu oleh 400 mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dan sekitar 200 mahasiswa dari perguruan tinggi di Malang. Total ada 600 lebih mahasiswa yang akan membantu di lapangan guna memastikan keamanan hewan kurban, sehingga menghasilkan hasil yang Aman Sehat dan Utuh (Asuh),” imbuhnya.
Terkait kewaspadaan penyakit menular, Anton menekankan pentingnya Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Meski tren penyakit mulut dan kuku (PMK) cenderung melandai, tahun ini masih ditemukan 12 kasus yang kesemuanya telah berhasil ditangani oleh tim medis veteriner.
”Kami imbau panitia atau masyarakat yang mendatangkan hewan dari luar daerah agar melampirkan SKKH dari daerah asal. Ini langkah proteksi kita bersama supaya penyebaran penyakit tidak masuk ke wilayah Kota Malang,” tegasnya.
Selain aspek kesehatan, diseminasi ini juga menyoroti pentingnya higiene sanitasi di tempat pemotongan. Mengingat terdapat sekitar 700 titik pemotongan di masjid dan 1.000 titik di musala se-Kota Malang, edukasi mengenai tata cara pemotongan yang sesuai syariat dan standar kesehatan menjadi krusial.
”Alhamdulillah, kondisi tempat pemotongan di masjid-masjid kita setiap tahun semakin bagus. Kami terus mendorong agar standar kebersihan tetap dijaga guna mencegah risiko zoonosis,” tambahnya.
Acara ini turut menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya KH Atoilah Wijayato yang mengupas Fikih Qurban, Dosen FKH UB drh. Mira Fatmawati M.Si, serta Anggota Komisi B DPRD Kota Malang, H. Fathol Arifin MH. mut.





