Sunarno
Kota Malang, Bhirawa
Persoalan limbah domestik, khususnya limbah makanan, diprediksi akan menjadi tantangan besar seiring dengan rencana implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika tidak dikelola dengan tepat, karakteristik limbah makanan yang tinggi protein akan memicu bau busuk menyengat dan merusak ekosistem biota air.
Padahal secara teknis, inovasi dan teknologi pengolahan limbah ramah lingkungan saat ini sudah sangat siap dan aplikatif, termasuk mengandalkan teknologi ramah lahan.
Pakar pengolahan limbah sekaligus praktisi dari PT Kalam Leverage Mulia Sunarno, mengungkapkan bahwa limbah domestik atau limbah makanan merupakan jenis limbah yang paling cepat membusuk. Pembusukan ini terjadi akibat proses anaerob (kondisi tanpa oksigen) di dalam air.
”Limbah cair yang kekurangan oksigen akan memicu bakteri anaerob bekerja, yang kemudian menghasilkan gas H2S (hidrogen sulfida) dengan aroma khas seperti telur busuk. Lebih dari itu, limbah makanan yang tinggi kandungan protein juga akan melepaskan amonia yang menyengat,” ujar Sunarno, yang merupakan alumni Kimia angkatan 1988 dari fakultas yang dahulu bernama MIPA dan sekarang sudah menjadi FSTeM (Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika) Universitas Brawijaya (UB) ini.
Direktur yang juga membawahi PT Solusi Limbah Cair dan PT Samodra Embun Anugerah ini menjelaskan, dampak pelepasan limbah tanpa pengolahan yang benar akan mengancam biota air akibat tingginya parameter BOD (Biological Oxygen Demand). Bakteri di sungai akan menghabiskan ketersediaan oksigen terlarut hanya untuk mengurai polutan tersebut.
”Itulah mengapa kalau ada sungai di kanan-kiri industri yang tidak mengolah limbahnya, ikan-ikan pada naik ke permukaan lalu mati karena kehabisan oksigen. Indikasi visualnya, air akan berubah menjadi hitam,” jelasnya.
Sunarno menambahkan, wilayah Malang Raya sebenarnya cukup diuntungkan oleh faktor topografi atau kontur tanah yang miring, sehingga genangan air relatif cepat mengalir. Kondisi ini berbeda dengan daerah flat seperti Surabaya atau Sidoarjo, di mana air di selokan menuju sungai seringkali sudah berbau busuk karena oksigennya telah habis.
Menjawab tantangan limbah pada program skala besar seperti MBG, Sunarno menegaskan bahwa kendala terbesar saat ini bukan lagi pada teknologi, melainkan ketersediaan lahan. Jika dahulu pabrik tapioka di Sumatra bisa memanfaatkan lahan luas untuk sistem kolam terbuka (lagoon), maka kondisi saat ini menuntut pemanfaatan teknologi yang kompak dan efisien.
”Saat ini, kami di industri diminta membantu merumuskan teknologi apa yang paling cocok dan siap diaplikasikan secara massal. Jawabannya adalah kombinasi sistem Anaerobic dan Aerobic menggunakan Bio Filter,” urai Sunarno.
Dengan teknologi ini, bakteri pengurai diberikan media tumbuh khusus berbentuk mirip sarang tawon yang terbuat dari plastik terstruktur. Sistem kombinasi ini dinilai sangat menghemat biaya operasional (operational expenditure/Opex) karena proses anaerobik sama sekali tidak membutuhkan energi listrik.
”Namun, jika anggaran memadai dan air hasil olahan ingin langsung digunakan kembali (reuse), kita bisa langsung menerapkan teknologi Membrane Bioreactor (MBR),” tambahnya.
Sunarno kini telah sukses menerapkan teknologi Advanced Oxidation Process (AOP) pada salah satu perusahaan multinasional asal Prancis di Malang. Teknologi ini memanfaatkan gugus radikal hidroksil untuk memecah warna keemasan atau kecokelatan serta polutan kimia pada air lindi (leachate) di TPA, sehingga air yang dibuang benar-benar memenuhi baku mutu lingkungan.
Meski perangkat teknologi sudah sangat mumpuni, Sunarno menggarisbawahi bahwa kunci keberhasilan penanganan limbah ini kembali pada komitmen regulator. Sistem pengolahan limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) modern yang menggunakan geomembran dan lapisan tanah penutup (layer) harian untuk menahan bau, tidak akan berjalan optimal tanpa aturan yang mengikat.
”Secara teknis semua sudah bisa diatasi. Sekarang tinggal kembali kepada regulasi dan ketegasan pemerintah selaku regulator. Jika aturan itu diterapkan secara ketat dan wajib dipenuhi oleh pelaku industri maupun pelaksana program domestik, maka sistem pengolahan limbah ini dipastikan akan berjalan lancar di lapangan,” pungkasnya.mut





