Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman berbicara pada From Campus to Global Market: Be The Next Smart Exporter” di Aula BAU UMM,
Kota Malang, Bhirawa⁸
Program Studi Ekonomi Pembangunan (EP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen mencetak eksportir muda yang kompeten dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Langkah nyata ini dibuktikan melalui gelaran kuliah tamu strategis bertajuk “From Campus to Global Market: Be The Next Smart Exporter” di Aula BAU UMM, Selasa (30/6) kemarin.
Dalam mengupas tuntas potensi pasar internasional, EP UMM menggandeng Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jawa Timur II. Sinergi ini bertujuan untuk membedah secara detail regulasi kepabeanan sekaligus memotivasi mahasiswa agar berani melangkah menjadi pelaku bisnis lintas negara (exportpreneur).
Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman, memaparkan secara komprehensif mengenai ekosistem ekspor bagi pemula. Mulai dari syarat dasar, proses kepabeanan, pengelompokan komoditas, hingga sistem transportasi logistik.
”Proses ekspor itu sebenarnya sangat terstruktur dan mudah diakses jika pengusaha sudah memahami alur birokrasi dan legalitas dasarnya. Mahasiswa jangan pernah takut berurusan dengan kepabeanan, karena pemerintah saat ini justru memberikan banyak fasilitas pendampingan guna mendongkrak volume ekspor nasional,” ujar Lukman di hadapan peserta.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami aturan larangan pembatasan ekspor, serta regulasi komoditas yang dikenakan biaya sesuai dengan PMK No. 39/PMK.001/2022. Menurutnya, pemahaman mengenai dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) mutlak diperlukan oleh calon eksportir sejak dini.
Sementara itu, praktisi UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna, turut membagikan pengalaman lapangannya. Ia menekankan strategi teknis dalam mengawali ekspor barang, terutama pemenuhan standar mutu internasional yang diminta oleh negara tujuan.
”Sebagai pemula atau exportpreneur, harus sangat jeli melihat celah peluang dan disiplin menjaga standar mutu produk di pasar global. Manfaatkan jejaring yang sudah disediakan oleh pihak kampus dan jadikan lembaga pemerintah sebagai mitra strategis untuk memperlancar perizinan, bukan dianggap sebagai hambatan bisnis,” tegas Anggri.
Melalui kegiatan ini, civitas akademika UMM berharap para lulusan tidak sekadar menjadi pengamat ekonomi. Sinergi harmonis antara akademisi, praktisi, dan regulator ini diproyeksikan menjadi modal berharga bagi generasi muda UMM untuk membawa produk lokal menembus iklim kompetisi internasional.
mut





