Malang, Bhirawa–Rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Koridor 2 di wilayah Malang Raya mendapat apresiasi positif dari pakar sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Wahyudi MSi. Kehadiran moda transportasi massal ini dinilai sebagai langkah konkret dalam mengurai permasalahan kemacetan, dengan catatan harus berlandaskan evidence-based policy serta dijalankan dengan tata kelola yang berintegritas.
Tanggapan tersebut disampaikan Wahyudi merespons rilis hasil riset Dewan Kampung Nuswantara (DKN) di Aula GKB 4 Kampus 3 UMM, kemarin. Hasil survei mencatat sebanyak 90,9 persen warga mendukung penuh operasional bus tersebut. Menurutnya, pemetaan persepsi publik merupakan fondasi esensial sebelum pemerintah mengeksekusi program berskala besar.
”Survei ini penting untuk mengetahui kebutuhan, persepsi, dan harapan masyarakat. Dengan begitu, kebijakan Trans Jatim Koridor 2 yang diambil benar-benar menjadi evidence-based policy,” ujar Wahyudi, Rabu (29/7).
Selain mengurai kemacetan, akademisi Kampus Putih ini menyoroti pencapaian transportasi publik yang wajib mewujudkan mobilitas efisien sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sesuai konsep eco-green. Menurutnya, output utama yang ingin dicapai adalah peningkatan kualitas lingkungan dan penguatan konektivitas di Malang Raya.
Terkait wacana pengalihan fungsi angkutan kota (angkot) menjadi angkutan feeder—yang didukung penuh oleh para pengemudi—Wahyudi mendesak pemerintah untuk memastikan regulasi pendanaan yang menjamin kesejahteraan para sopir. Ia juga mengingatkan pentingnya sistem birokrasi yang transparan agar program strategis lintas daerah ini tidak dimanfaatkan oleh oknum atau free riders.
”Masyarakat tentu harus menjaga kebijakan yang sangat bagus ini dari pembonceng bebas, sehingga kehadirannya benar-benar menjadi media untuk memayu hayuning bawono atau mempercantik alam Malang Raya,” tegasnya.
Untuk memaksimalkan pelayanan Trans Jatim Koridor 2 yang rencananya melayani rute Terminal Talangagung Kepanjen, Terminal Hamid Rusdi, hingga Terminal Arjosari, ia merekomendasikan perbaikan infrastruktur halte serta penerapan sistem informasi rute berbasis audio di dalam armada. Hal ini penting untuk memudahkan mobilitas penumpang, khususnya kelompok rentan seperti lansia.
”Di dalam bus perlu diberi informasi rute dan peringatan terminal berikutnya, sehingga penumpang merasa nyaman dan sopir bisa tetap fokus berkendara,” tambahnya.
Wahyudi berharap hasil survei kelayakan transportasi ini terus dipublikasikan secara transparan agar masyarakat dapat ikut mengawal pelaksanaannya di lapangan. Kebijakan yang diawali dengan niat tulus demi kemaslahatan warga diyakini akan menghadirkan kemajuan berkelanjutan bagi tata ruang, ekologi, dan kesejahteraan sosial di Malang Raya. mut.






