Muslimat NU Sambut Muktamar Ke-35 di Jombang Lewat Semnas dan Bahtsul Masail Kaji Generasi Digital Hingga Kekerasan Seksual

Jombang, Bhirawa-Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan kesiapan penuh untuk menyambut dan menyukseskan gelaran Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur. Dukungan konkret ini diwujudkan melalui perhelatan Seminar Nasional (Semnas) dan Bahtsul Masail yang melibatkan lebih dari 200 peserta, termasuk para pakar dari Asosiasi Profesor Muslimat NU (APMNU).

​Rangkaian acara yang dipusatkan di kompleks SMKN 1 Jombang tersebut dirancang untuk memperkuat tradisi keilmuan sekaligus merespons isu-isu sosial keumatan yang krusial.

​Sekretaris PP Muslimat NU, Syarifah Noor Hidayati, menyampaikan bahwa seluruh persiapan kegiatan telah berjalan optimal. Hingga H-1 pelaksanaan, persiapan teknis disebut telah mencapai sekitar 90 persen.

​”Alhamdulillah kami sudah menyiapkan tempat di aula SMKN 1 Jombang untuk sekitar 200 peserta yang hadir dari lingkungan Muslimat NU, para profesor APMNU, hingga jajaran pengurus daerah,” ujar Syarifah.

​Adapun rangkaian kegiatan diawali pada Kamis (27/8) dengan agenda peluncuran website serta buku resmi APMNU, dilanjutkan dengan partisipasi kader dalam menghadiri pembukaan Muktamar. Sementara pada Jumat (28/8), Seminar Nasional digelar sejak pagi hingga siang di Aula SMKN 1 Jombang, disusul forum Bahtsul Masail di Masjid Darussalam.

​Sejumlah tokoh nasional dan regional dijadwalkan hadir dalam Seminar Nasional tersebut. Di antaranya Menteri Komdigi Meutya Hafid sebagai narasumber, Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

​Dua tema besar yang diangkat dalam forum ini meliputi Pola Asuh untuk Generasi Cerdas Digital serta Strategi Menciptakan Lingkungan Bebas Kekerasan Seksual.

​Sejumlah pakar dan akademisi terkemuka dilibatkan sebagai tim perumus dan pembahas. Di antaranya Prof. Dr. Hj. Umma Faridah, Prof. Dr. H. Lilik Umi Kulsum, Prof. Dr. Hj. Mufidah Ch., M.Ag., hingga Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag.

​Forum Bahtsul Masail sendiri ditempuh melalui tujuh tahapan teknis terstruktur—mulai dari pembacaan masalah, tashwirul mas’alah (deskripsi kasus), munaqasyah, hingga tashih perumusan keputusan final. Kajian tidak hanya berpijak pada fikih klasik, tetapi juga mengintegrasikan riset ilmiah dan pandangan pihak terkait, termasuk jajaran kepolisian.

​Menjelang perhelatan Muktamar NU ke-35, Syarifah mengajak seluruh keluarga besar Muslimat NU untuk senantiasa menjaga iklim organisasi yang kondusif serta siap mendukung siapapun jajaran kepemimpinan PBNU yang terpilih.

​”Siapapun nanti yang menjadi ketua umum, kita semua tetap mendukung PBNU. Semoga amanah dan membawa keberkahan bagi NU maupun badan otonom di bawahnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *