Malang, Bhirawa— Mengatasi persoalan keterbatasan lahan, Keluarga Mahasiswa Teknik Lingkungan (KMTL) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) menggelar program pengabdian masyarakat bertajuk Malang Enviro Action (MEA) 2026, dengan vertikal garden.
Kegiatan yang berlangsung di RW 06 Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang, pada pekan kemarin, ini berfokus pada edukasi serta praktik penerapan urban farming menggunakan sistem vertical garden. Program tersebut menggandeng Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang guna memberikan solusi konkrit atas permasalahan ruang terbuka di area permukiman padat.
Penyuluh dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang, Tjutjuk Hardijanto, S.P., menegaskan bahwa ruang yang terbatas tidak boleh menjadi penghalang bagi warga untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Menurutnya, pemanfaatan ruang secara vertikal merupakan alternatif paling efektif untuk mengoptimalkan lahan yang ada.
”Keterbatasan ruang bukan hambatan untuk menanam. Dengan pendekatan vertikal, warga tetap bisa melakukan penghijauan sekaligus memproduksi tanaman pangan secara mandiri di sekitar rumah,” ujar Tjutjuk di hadapan sekitar 20 peserta yang terdiri dari jajaran Ketua RT, Ketua RW, pengurus PKK, serta warga setempat.
Dalam praktiknya, panitia MEA 2026 menyerahkan 12 unit instalasi vertical garden berbasis pipa PVC yang didistribusikan ke enam RT di wilayah RW 06. Setiap RT menerima dua unit instalasi beserta bibit tanaman pakcoy dan selada sebagai media awal budidaya.
Warga tidak hanya menerima bantuan fisik, tetapi juga dibekali pemahaman teknis mengenai tahapan budidaya tanaman—mulai dari penyemaian benih, proses pemindahan ke instalasi pipa, perawatan rutin, hingga teknik pemanenan yang benar.
Inisiatif pengabdian ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 2 (Zero Hunger) dalam mendorong ketersediaan pangan mandiri, serta poin 11 (Sustainable Cities and Communities) guna menciptakan kawasan permukiman yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Melalui sinergi akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat ini, diharapkan 12 unit vertical garden tersebut menjadi langkah awal percontohan yang dapat direplikasi secara mandiri oleh warga Tunjungsekar.mut






