KH. Dr.Marzuki Mustamar bersama para jamaah di Kediaman KH. Tolhah Hassn almarhum
Kota Malang, Bhirawa
Gerakan istighosah mujahadah di kalangan Nahdliyin, digelar secara masal. Kegiatan ini bukan merupakan inisiatif spontan apalagi kepentingan kelompok tertentu, melainkan murni perwujudan ketaatan tulus terhadap arahan (dawuh) para masyayikh
Pernyataan ini disampaikan KH Dr. Marzuki Mustamar setelah melaksanakan mujahadah bersama jamaah di Singosari Kabupaten Malang, Selasa 2/12 kemarin.
“Saya ini santri. Diperintah budal, yo budal. Latar belakangnya apa, saya hanya menjalankan perintah masyayikh,” tegas KH Marzuki.
Disampaikan dia arahan untuk menggelar istighosah ini datang dari ulama sepuh secara seragam. Hal inilah yang menjadikannya gerakan spiritual kolektif, bukan atas dasar kehendak personal.
“Ini bukan inisiatif kami. Ketika dawuh sudah mutawatir (diriwayatkan oleh banyak pihak), berarti valid, dan layak kita laksanakan,” lanjutnya.
KH Marzuki dengan tegas menepis anggapan yang mengaitkan gerakan istighosah ini dengan kondisi internal NU yang belakangan dinilai memanas.
Baginya, urusan prihatin atau tidaknya atas kondisi organisasi sepenuhnya berada di tangan para masyayikh.
“Prihatin apa tidak, masyayikh yang tahu. Kami ini cuma menjalankan perintah,” ujarnya.
Pihaknya menambahkan bahwa warga biasa tidak memiliki kapasitas untuk mengusulkan terkait dinamika organisasi tingkat tinggi. “Usul opo? Yang bisa usul itu orang yang ikut muktamar. Kami hanya bisa berdoa,” katanya.
Di tengah pusaran dinamika, KH Marzuki mengaku memiliki harapan yang sangat sederhana namun fundamental untuk masa depan organisasi: NU yang adem, solid, dan dipimpin oleh orang-orang yang tulus berkhidmat.
“Saya itu hanya berangan-angan, pengurus NU di semua tingkatan itu tulus kepada Allah. Ikhlas, tidak punya niat macam-macam,” ungkapnya.
Terkait kondisi Indonesia yang dilanda bencana alam, KH Marzuki menilai bahwa istighosah adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual warga NU.
Baginya, doa bukan sekadar tradisi, melainkan ikhtiar spiritual yang wajib di tengah situasi nasional yang tidak baik-baik saja.
Meski enggan mengomentari friksi di tingkat pusat, pihaknya menegaskan bahwa NU tetap memiliki panggilan kemanusiaan yang harus dijalankan.
Dalam peranannya memberi rekomendasi kebijakan kepada pemerintah, terutama terkait kebencanaan, pihaknya mengingatkan agar proses tersebut harus berbasis profesionalitas.
“Harus ada orang-orang yang qualified. Profesor kelautan, ilmuwan, ahli kebencanaan, semua dilibatkan. Biar keputusan tepat sasaran,” tuturnya.
KH Marzuki menegaskan bahwa ketaatan terhadap masyayikh dan ketulusan dalam berkhidmat adalah fondasi utama NU dalam menghadapi segala persoalan.
Gerakan istighosah mujahadah, menurutnya, adalah wujud nyata bagaimana tradisi spiritual tetap menjadi pegangan utama warga NU.
“Yang penting manut dawuh masyayikh. Iki pegangan kita,”pungkasnya.mut





