Surabaya, Bhirawa – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, dikenal lekat dengan dua label di mata publik: “Senator Cantik” dan “Humble”. Dua sebutan ini tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari perpaduan gagasan intelektual serta rekam jejak interaksinya yang membaur tanpa sekat bersama warga.
Sebutan “Cantik” mulanya bertolak dari sebuah akronim yang kerap ia gaungkan, yakni Cerdas, Inovatif, dan Kreatif (CANTIK). Bagi keponakan mantan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini, narasi tersebut dirancang sebagai dorongan agar perempuan di ruang publik dinilai dari kapasitas berpikir serta kontribusi nyata, bukan sekadar tampilan fisik.
”Cantik bisa dimaknai sebagai Cerdas, Inovatif, dan Kreatif. Jadi bukan soal rupa, tapi cara berpikir dan bersikap dalam melayani masyarakat,” tutur Ning Lia.
Meski demikian, respons spontan masyarakat kerap mengamini makna harfiahnya. Sri Lestari, warga Kutisari, Surabaya, mengaku terkesan dengan keramahan Ning Lia saat menghadiri bakti sosial di lingkungannya. “Cantik dan baik orangnya. Selalu ramah dan tersenyum di mana pun,” ungkapnya.
Pengamat politik Mubarok menilai, identitas tersebut telah terbentuk jauh sebelum Ning Lia melenggang ke Senayan. Kiprahnya sebagai aktivis perempuan secara konsisten membawa pesan pemberdayaan publik. “Ketika maju sebagai senator, ia membawa pesan agar perempuan dilihat dari kemampuan dan kontribusinya. Kini persepsi itu mengkristal karena figur Ning Lia memang dekat dengan warga,” jelas Mubarok.
Sementara itu, predikat “Humble” mencuat dari gaya komunikasi lapangannya yang mengusung prinsip wani mudhun ngisor (berani turun ke bawah). Ning Lia kerap terlihat melepas sekat protokoler, bahkan tidak canggung berjalan tanpa alas kaki saat berbaur dengan warga di Wonocolo, Surabaya.
Tokoh masyarakat Wonocolo, H. Muhaimin, mengungkapkan bahwa gaya sederhana Ning Lia membuat suasana temu warga menjadi cair. Hal senada tampak saat Ning Lia menyambangi mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, pada September 2026. Forum tersebut berlangsung santai layaknya dialog antara kakak dan adik.
Pola komunikasi serupa juga ditunjukkan dalam berbagai agenda kedaerahan, termasuk silaturahmi bersama PC Fatayat NU Kota Surabaya pada Maret 2026 yang mengupas tuntas pemberdayaan perempuan. Kebiasaan menyerap aspirasi secara langsung—mulai dari isu pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan anak—tetap menjadi prioritas kerjanya untuk diperjuangkan di tingkat parlemen.
Kesan merakyat itu pun diamini Wiwik Setyowati, warga Gresik. “Saya pernah lihat Ning Lia nyeker waktu jalan, ramah dan suka menyapa duluan,” pungkasnya. Lewat kedekatan emosional inilah, citra senator yang anggun sekaligus rendah hati terus melekat kuat pada sosok Ning Lia.mut






