Museum Keliling Disdikbud Kota Malang Sambangi SDN Arjosari 3 : Kenalkan Arca dan Sejarah Singhasari Sejak Dini

Malang, Bhirawa – Museum keliling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, memboyong aneka ragam koleksi sejarah, warisan budaya tak benda, hingga peninggalan arkeologis langsung ke tengah para siswa di SDN Arjosari 3, Kota Malang.

​Kegiatan edukatif dan interaktif ini menyuguhkan pengalaman belajar nyata di luar rutinitas buku pelajaran. Para siswa tampak antusias menyimak materi, mencatat temuan baru, hingga aktif menjawab berbagai pertanyaan seputar perjalanan sejarah di kawasan Malang Raya.

​Arkeolog sekaligus peneliti dari Disdikbud Kota Malang, Juan Steven Susilo mengungkapkan rasa kagumnya terhadap respons positif para pelajar selama sesi pengenalan koleksi berlangsung.

​”Anak-anak sangat penuh semangat, mendengarkan dengan baik, mencatat poin penting, serta mampu menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan berdasarkan materi yang dipaparkan,” tutur Juan.

​Materi yang dibagikan tidak sekadar sejarah lokal, melainkan mencakup kebudayaan tak benda seperti Tari Topeng Panji, hingga replika koleksi arkeologis penting, di antaranya Arca Prajnaparamita dan Arca Ganesha. Dari media tersebut, para siswa dibimbing untuk membedakan fungsi serta makna antara karya patung biasa dengan arca pemujaan.

​”Ketika anak-anak mengunjungi situs sejarah seperti Candi Singosari atau Petirtaan Watugede (Candi Dedes), mereka tidak lagi bingung membedakan mana arca dan mana patung biasa, serta arca dewa siapa yang sedang dilihat. Mereka mulai paham esensinya sejak di bangku sekolah dasar,” jelasnya seraya berharap program ini terus meluas demi menumbuhkan kecintaan generasi muda pada identitas kedaerahannya.

​Langkah jemput bola Disdikbud Kota Malang ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak sekolah. Staf SDN Arjosari 3, Zainal Muntakin, menilai pendekatan edukasi langsung ini sangat efektif menanamkan nilai-nilai historis bangsa, sejalan dengan semboyan ‘Jas Merah’ agar anak-anak tidak melupakan sejarah kelahirannya.

​”Alhamdulillah siswa-siswi kami sejak dini sudah diberi edukasi terkait sejarah Kota Malang, masa Singhasari, hingga kerajaan lampau. Ini bekal berharga agar mereka memahami silsilah sejarah daerahnya sekaligus cakupan Nusantara secara lebih luas,” ujar Zainal.

​Terlebih lagi, letak geografis sekolah yang berdekatan dengan kawasan Singosari membuat materi pembelajaran terasa sangat kontekstual. Para siswa kini dapat memahami korelasi asal-usul toponimi atau penamaan wilayah di sekitar mereka dengan tokoh-tokoh besar masa lalu, mulai dari Ken Arok hingga Ken Dedes.

​”Mereka akhirnya tahu kenapa ada nama daerah Singosari, Tegalweru, atau Tegalgondo. Melalui kegiatan ini, siswa diajak tidak sekadar menghafal teks sejarah, namun mengerti akar budaya lingkungannya dan mampu menghargai perjuangan para leluhur,” tutup Zainal. mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *