Malang, Bhirawa— Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang terus memperkuat literasi sejarah di tingkat sekolah dasar. Melalui program Museum Keliling, ratusan siswa SDN Bumiayu 1 Kota Malang diajak mengenal langsung koleksi bersejarah tanpa harus beranjak ke museum, akhir pekan kemarin.
Beragam koleksi dari Museum Mpu Purwa—mulai dari arca, keris, hingga Topeng Panji Malang—dihadirkan langsung ke tengah para siswa. Pendekatan interaktif dan pemutaran video edukasi menjadi sarana efektif agar anak-anak memahami filosofi di balik benda cagar budaya tersebut.
Arkeolog sekaligus pemateri kegiatan, Juan Steven Susilo, menjelaskan bahwa pengenalan artefak bertujuan menanamkan identitas kedaerahan sejak usia dini. Ia menyoroti kisah Panji yang lahir pada rentang abad ke-10 hingga ke-11 dan telah mengakar kuat di Asia Tenggara, dengan Malang sebagai salah satu episentrum pelestariannya.
“Tantangan pelestarian tidak cukup sekadar menjaga fisik bendanya. Generasi muda harus dipersiapkan lewat edukasi yang baik agar mereka bangga, Malang punya kebudayaan adiluhung yang diakui di Asia Tenggara,” terang Juan.
Antusiasme serupa diungkapkan Kepala SDN Bumiayu 1 Kota Malang, Putria Suprianti. Selama ini, para siswa kerap melihat topeng sebatas atribut pertunjukan tari. Lewat pemaparan langsung, siswa mulai memahami karakter warna, bentuk, hingga makna di baliknya.
“Anak-anak kini tahu makna karakter topeng, dari yang merah sampai yang hijau. Begitu pula dengan keris, anak-anak memahami bahwa keris bukan sekadar senjata tajam, melainkan memiliki filosofi luhur,” ungkap Putria.
Ia menambahkan, pemahaman sejarah sejak bangku sekolah dasar sangat krusial sebagai benteng agar warisan budaya nusantara tidak mudah tergerus zaman atau diklaim pihak luar.
Ditemui terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, menegaskan bahwa Museum Keliling dirancang sebagai jembatan edukasi langsung antara artefak sejarah dan peserta didik.
“Museum Keliling menjadi medium agar literasi sejarah dan kebudayaan tidak melulu teoritis di dalam kelas, melainkan hadir melalui pengalaman melihat, mengamati, dan menyentuh nilai-nilai warisan bangsa secara nyata,” pungkas Juli. mut






