Gagas Konsep Ekonomi Sirkular, Mahasiswa UM Luncurkan WHISH Perawatan Sepatu Putih dari Limbah Organik

Kota Malang, Bhirawa — Komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan inovasi kewirausahaan ditunjukkan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K), tim mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UM meluncurkan produk inovatif bernama WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes), sebuah tisu perawatan sepatu putih praktis berbahan baku limbah organik.

​Produk ini dirancang dengan mengusung prinsip ekonomi sirkular. Alih-alih menerapkan pola konvensional ambil-pakai-buang (take-make-dispose), tim PKM-K FEB UM memanfaatkan kembali ampas tebu serta ekstrak kulit lemon agar kembali bernilai guna dan bernilai ekonomi tinggi.

​Ketua Tim PKM-K, Sekar Wahyu Ningtyas dari Program Studi S-1 Pendidikan Bisnis, menuturkan bahwa WHISH hadir sebagai bukti bahwa potensi bahan lokal dan limbah pertanian mampu diolah menjadi solusi aplikatif harian.

​”Melalui WHISH, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal lahirnya produk baru yang bernilai ekonomi serta bermanfaat bagi masyarakat. Inovasi ini membuktikan prinsip ekonomi sirkular sangat bisa diterapkan pada produk kebutuhan harian,” ungkap Sekar.

​Dalam formulasinya, lembaran tisu basah dibuat dari serat ampas tebu yang bersifat biodegradable (mudah terurai secara alami). Sementara larutan pembersihnya memanfaatkan ekstrak kulit lemon sisa industri minuman yang diolah menggunakan teknologi nanoenkapsulasi guna menjaga kestabilan senyawa aktif pembersih sekaligus mencegah sepatu putih cepat menguning. Formulasi ini kian lengkap dengan tambahan biosurfaktan alami dari ekstrak lidah buaya (Aloe vera) yang efektif meluruhkan debu, noda ringan, dan minyak tanpa mengikis material sepatu.

​Pengembangan produk ini merupakan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Selain Sekar Wahyu Ningtyas, tim beranggotakan Ervina Mei Ananda Putri (S-1 Pendidikan Bisnis), Adrian Arif Pambudi (S-1 Biologi), Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto (S-1 Pendidikan Kimia), dan Kharisma Putri Ambarwati (S-1 Pendidikan Bisnis). Perpaduan keilmuan bisnis, biologi, dan kimia tersebut menjadi landasan riset produk agar siap bersaing di pasar komersial.

​WHISH diposisikan sebagai produk perawatan harian (daily aftercare) yang praktis diaplikasikan usai pemakaian sepatu, tanpa harus selalu mencuci dengan air. Tisu ini cocok digunakan pada berbagai jenis bahan sepatu putih, mulai dari synthetic leather, PU leather, PVC leather, hingga sol tengah (midsole) berbahan EVA, PU, maupun TPU.

​Untuk menembus pasar, produk ini dikemas dalam boks berisi delapan saset (masing-masing berisi dua lembar tisu basah) dan dipatok seharga Rp30.000 per boks. Pemasaran dijalankan secara terintegrasi lewat kanal digital, promosi kegiatan, hingga kerja sama dengan gerai toko sepatu dan jasa cuci sepatu (shoe laundry).

​Inovasi mahasiswa UM ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin ke-9 terkait industri, inovasi, dan infrastruktur. Dengan dukungan pihak universitas, produk WHISH diharapkan dapat terus berkembang menjadi unit wirausaha mahasiswa yang kompetitif dan berkelanjutan.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *