Pamerkan alat hasil riset lapangan, mulai dari pencetak kerupuk puli ergonomis, hingga sistem penyortir beras otomatis,
Kota Malang, Bhirawa
Implementasi kurikulum berbasis solusi nyata terus digencarkan oleh Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Melalui mata kuliah Perancangan Sistem Industri, mahasiswa Teknik Industri S-1 berhasil menciptakan deretan inovasi alat tepat guna yang mampu menjawab kendala produksi di sektor Usaha Kecil Menengah (UKM).
Karya-karya inovatif tersebut dipamerkan dalam ajang “Exhibition Capstone Design: The Future of Manufacturing” di Kampus 2 ITN Malang, pekan kemarin.
Sebanyak 11 kelompok memamerkan alat hasil riset lapangan, mulai dari pencetak kerupuk puli ergonomis, sistem penyortir beras otomatis, hingga alat pencampur bumbu keripik tempe.
Dosen pengampu mata kuliah, Dr. Prima Vitasari, SIP., MPd, MT., menjelaskan bahwa Capstone Design ini mewajibkan mahasiswa untuk terjun langsung bermitra dengan pelaku industri rumahan. Mahasiswa ditantang untuk tidak sekadar berteori, namun wajib menemukan masalah konkret dan memberikan solusi teknis.
”Mahasiswa diminta melakukan pendekatan keilmuan Teknik Industri untuk efisiensi produksi. Jadi, desain peralatan yang dibuat harus benar-benar bisa memecahkan masalah yang dihadapi mitra UKM di lapangan,” ujar Dr. Prima yang membimbing mahasiswa bersama Sanny Andjar Sari, ST, MT.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah alat pencampur bumbu keripik tempe karya Jason Novellino dan tim. Melalui riset di UMKM Keripik Tempe Rudi di Kampung Sanan, mereka berhasil menciptakan alat yang mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat.
”Jika manual hanya bisa memproses 16-20 bungkus, dengan alat ini kapasitas pengadukan meningkat menjadi 34-40 bungkus sekali proses,” terang Jason.
Sentuhan inovasi juga dirasakan oleh Koperasi Amarta Padi Blitar. Mahasiswa menciptakan alat pencetak kerupuk puli multi-kapasitas yang mampu mencetak 20 biji sekaligus.
Inovasi ini menggantikan cara manual yang melelahkan, di mana sebelumnya pekerja hanya bisa mencetak tiga buah sekali tekan dengan posisi duduk yang kurang ergonomis.
Selain aspek kapasitas, faktor kesehatan kerja (K3) turut menjadi perhatian. Kelompok Didan Suryadana menciptakan alat ayakan beras otomatis yang mencegah risiko sakit punggung pada pekerja akibat proses sortir manual yang terlalu lama membungkuk.
Kepala Koperasi Amarta Padi Blitar, Siti Marfuah, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Ia mengakui alat hasil kreativitas mahasiswa ITN Malang jauh lebih efisien dibandingkan metode tradisional yang selama ini digunakan anggotanya.
Selain alat-alat tersebut, pameran juga menampilkan filter penyaring tahu, penyiram tanaman berbasis Arduino, hingga redesain tata letak gudang. Meski baru tahun pertama dilaksanakan, pihak prodi berkomitmen melakukan perbaikan berkelanjutan.
”Alhamdulillah, testimoni mitra sangat positif. Harapannya, Teknik Industri ITN Malang terus melahirkan inovator muda yang memberikan manfaat nyata bagi ekonomi kerakyatan,” pungkasnya. mut





