Harmoni Lintas Negara, 11 mahasiswa asing yang tergabung dalam grup “Boys of Peace” naik ke atas panggung.
Kota Malang, Bhirawa
Pemandangan berbeda mewarnai prosesi wisuda di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya (UB), pekan kemarin. Jika biasanya prosesi kelulusan kental dengan nuansa formalitas, kali ini suasana berubah menjadi haru dan penuh pesan mendalam saat 11 mahasiswa asing yang tergabung dalam grup “Boys of Peace” naik ke atas panggung.
Membawakan lagu legendaris milik Michael Jackson, Heal the World dan Earth Song, para mahasiswa dari berbagai penjuru dunia ini berhasil membius ribuan pasang mata wisudawan dan tamu undangan. Bukan sekadar hiburan, penampilan ini menjadi simbol persatuan dan pesan perdamaian dunia yang digaungkan dari jantung kampus biru.
Koordinator kegiatan, Aulia Luqman Aziz S.S., S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pembentukan grup paduan suara ini merupakan wadah bagi mahasiswa internasional untuk berkontribusi langsung dalam momen sakral universitas. Meski bukan penyanyi profesional, semangat kebersamaan menjadi modal utama mereka.
“Ini pertama kalinya mereka tampil dengan konsep murni choir di acara wisuda. Kami memilih format yang sederhana namun sarat makna agar pesan perdamaiannya sampai ke audiens,” ujar Aulia di sela-sela acara.
Grup “Boys of Peace” ini merupakan representasi keberagaman global. Anggotanya terdiri dari mahasiswa asal Filipina, Kazakhstan, Vietnam, Timor Leste, Myanmar, Madagaskar, hingga Pakistan. Mereka didampingi oleh Seviola Syahputri, mahasiswa FMIPA UB sebagai vokalis utama yang memandu harmoni vokal lintas negara tersebut.
Salah satu anggota, Doan Thu Thuy, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi asal Vietnam, mengaku sempat gugup namun merasa sangat bangga. “Tampil di depan orang sebanyak ini dengan pesan kemanusiaan adalah pengalaman yang tak terlupakan,” ungkapnya dengan nada emosional.
Namun, di balik harmonisasi yang apik, perjuangan mereka tidaklah mudah. Aulia membeberkan bahwa tantangan terbesar adalah waktu latihan yang sangat mepet. Di tengah padatnya jadwal kuliah S1 dan S2, serta masa Ujian Tengah Semester (UTS), para anggota sulit berkumpul secara lengkap.
“Kami hanya sempat latihan tiga sampai empat kali, itu pun tidak pernah full karena bentrok dengan jadwal kuliah atau kendala cuaca. Siasatnya, kami merekam sesi latihan agar anggota yang absen bisa belajar mandiri,” tambah Aulia.
Kehadiran “Boys of Peace” membuktikan bahwa perbedaan latar belakang budaya dan bahasa bukanlah penghalang untuk menciptakan sebuah harmoni. Musik terbukti menjadi medium universal yang efektif untuk menyatukan perbedaan.
Melalui kolaborasi ini, Universitas Brawijaya menegaskan posisinya sebagai kampus inklusif yang memberikan ruang luas bagi mahasiswa internasional untuk berekspresi. Harapannya, semangat perdamaian yang disuarakan dari panggung Samantha Krida ini dapat menjadi inspirasi bagi para lulusan baru saat terjun ke masyarakat dunia.mut





