Bersepeda menuju tempat kerja digalakkan oleh Pemkot Malang
Kota Malang, Bhirawa
Pemerintah Kota Malang terus memperkuat komitmennya dalam menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan kesehatan pegawainya. Hal ini ditegaskan melalui peresmian gerakan Bike to Work (Bersepeda ke Kantor) bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Malang, yang dipusatkan di Balai Kota Malang, Jumat (24/4).
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengungkapkan bahwa kebijakan wajib bersepeda setiap hari Jumat ini sebenarnya telah diinisiasi sejak 27 Maret lalu. Namun, melalui apel resmi kali ini, Pemkot ingin memastikan bahwa implementasi di lapangan berjalan lebih luas, masif, dan konsisten di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
”Gerakan ini kami tegaskan kembali. Setiap hari Jumat, seluruh ASN Pemerintah Kota Malang wajib berangkat bekerja menggunakan sepeda. Ini bukan sekadar seremoni, tapi langkah nyata perubahan perilaku,” tegas Wahyu Hidayat usai memimpin apel.
Menurutnya, esensi dari Bike to Work adalah menempuh perjalanan dari rumah menuju tempat kerja dengan mengayuh pedal, bukan sekadar bersepeda di area perkantoran. Langkah strategis ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil dan menjadi kampanye hidup sehat yang dimulai dari lingkungan birokrasi.
Tak hanya sepeda, Wahyu juga mendorong para abdi negara untuk memanfaatkan moda transportasi ramah lingkungan lainnya, seperti angkutan umum maupun kendaraan listrik, guna mewujudkan ekosistem perkotaan yang lebih hijau.
Bersamaan dengan peluncuran gerakan tersebut, suasana Balai Kota Malang nampak lebih hidup dengan digelarnya Gebyar Pelayanan Publik dan UMKM. Berbagai stan layanan pemerintahan sengaja dibuka di area terbuka untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat secara langsung.
Kegiatan juga diwarnai dengan olahraga bersama bertajuk STMJ (Senam Tahes Mbois Jumat). Sebagai puncak kemeriahan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-112 Kota Malang, Pemkot juga menggelar Grand Final Lomba Permainan Tradisional.
Suasana riuh terlihat saat para peserta bertanding dalam permainan dakon, bekel, hingga oray-orayan. Wahyu menilai, di tengah gempuran digitalisasi dan dominasi gawai, permainan tradisional memegang peranan krusial untuk menjaga kesehatan mental dan interaksi sosial.
”Kami ingin menumbuhkan kembali nilai kebersamaan dan budaya lokal. Melalui permainan tradisional, ada interaksi sosial yang kuat yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Ini adalah jati diri kita,” pungkasnya.
Melalui integrasi kebijakan lingkungan, peningkatan layanan publik, dan pelestarian budaya ini, Pemkot Malang optimis mampu menciptakan budaya kerja yang lebih sehat sekaligus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat luas. mut.





