Bhirawaonline.com – Sejumlah kelompok yang tergabung Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) kembali menggelar pertemuan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 27-31 Agustus 2026 mendatang.
Sabtu malam (1/8/2026) pertemuan digelar di Pesantren Rakyat, Sumberpucung, Kabupten Malang. Pertemuan ini bertitel ‘Muktamar Rakyat An Nahdliyin’. Ini adalah kedua kalinya acara digelar dengan event yang dikemas sebagai ‘Jagongan Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35’. Sebelumnya, acara digelar di Bahrul Ulum Al Hamid, 9 Juli lalu.
Ada yang menarik dalam acara yang di Pesantren Rakyat yang dihadiri sekitar 150 orang dari berbagai latar belakang itu. Yakni, ada tandatangan petisi dari semua peserta yang hadir. Mereka yang hadir mulai dari unsur Ulama’, Kiai Muda, Petani, Modin, Wartawan, Konten Kreator, Guru, dan lain sebagainya.
Total ada 5 poin petisi yang dihasilkan dalam Pertemuan tersebut. Yakni:
- Seyogyanya NU kembali semangat pada pemberdayaan melalui Masjid dan Mushola. Diharapkan semua santri dan intelektual NU, kembali pada Masjid dan Mushola.
- Menjadikan pesantren sebagai basis pemberdayaan dan kemaslahatan ummat sebagaimana mestinya.
- Bahwa pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, maka revitalisasi dibidang pendidikan perlu ditingkatkan baik dibidang formal dan informal.
- NU harus menerapkan gerakan filantropi yang berkelanjutan.
- Momentum Muktamar NU ke-35 adalah waktu yang tepat untuk kembali ke jati diri dengan revolusi ruhani.
“Bismillahhirrohmannirohim, dengan ini kita membuat petisi untuk NU yang semakin lebih baik lagi dari waktu ke waktu,” kata KH Abdullah Sam, tuan rumah kegiatan tersebut.
Kiai Sableng Beri Kritik Sosial Melalui Permainan Wayang
Dalam acara yang berlangsung gayeng sekitar tiga jam tersebut, KH Abdullah Sam sebagai tuan rumah menyampaikan gagasannya dengan cara unik.
Yakni, dia memainkan wayang dengan dialog antara Bagong dan Petruk. Ada banyak kritik sosial, khususnya soal dunia NU yang disampaikan oleh KH Abdullah Sam.
Salah satunya, warga kultural NU jangan diajari soal MBG (Makan Bergizi Gratis).”Karena kita sudah banyak melakukan itu dengan adanya slametan orang wafat, brokohan, manaqib-an dan lain sebagainya,” kata alumnus UIN Malang ini.
Begitu juga, soal pemberdayaan, jangan ajarkan warga NU soal pemberdayaan.”Karena kita sudah terbiasa saling tolong menolong dan kerja bakti,” katanya melalui tokoh Bagong.
Sedangkan melalui tokoh Petruk, KH Abdullah Sam menyampaikan agar para alumni pesantren, santri, dan tokoh NU lainnya untul kembali memakmurkan Mushola dan Masjid.”Ramaikan masjid dengan mengajar mengaji, kalau perlu tidak masalah kalau harus membersihkan WC masjid,” pungkasnya.
Hikmah Bafaqih Soroti Diskriminasi Sekolah Swasta dan Madrasah, PKB Siap Kawal RUU Sisdiknas
Gus Atok: Ada 5 Hal yang Menjadi Daya Ungkit Pesantren
Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid KH Athok Lukman Hakim menyampaikan NU perlu daya ungkit agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sebagai organisasi kamasyarakatan terbesar di Indonesia dan mungkin dunia, dengan jama’ah mencapai 140-160 juta (hasil survey), kata dia daya ungkit pertama adalah Mushola dan Masjid.”Keduanya bisa menghubungkan kita pada Allah, pada Nabi, juga pada gerakan wakaf yang seharusnya bisa efektif memberdayakan umat,” katanya.
Sedangkan daya ungkit kedua adalah pesantren. Selanjutnya adalah pendidikan. Filantropi atau wakaf yang produktif.
”Dan yang terakhir saya menyebutnya revolusi ruhani, jadi bagaimana yang semua kita lakukan, yang semua dilakukan pengurus NU, semata untuk khidmah dan untuk Allah, tidak untuk yang lain misal untuk ambisi politik dan lain sebagainya,” katanya.”Jika revolusi ruhani dilakukan, maka Ulama’ bisa menjalankan perannya sebagai pembimbing ruhani ummat dan pengingat bagi kekuasaan,” pungkasnya.
Keluhan Pak Modin
Hadir dalam kegiatan ini salah seorang modin atau petugas keagamaan dari Lowokwaru, Kota Malang yakni Sulis. Dalam kegiatan itu, dia menyampaikan unek-uneknya agar modin diperhatikan intensifnya.
“Di kota itu, ada anggapan kalau mudin itu gak ada gak masalah, itu kan berbahaya, jadi aspirasi saya itu,” pungkasnya.
NU Harus Punya Perbankan untuk Kaum Dhuafa
CEO Tugu Media Group Irham Thoriq membuka pembicaraannya dengan mengenang pesantren rakyat yang dia kunjungi pada 2008 silam.
“Dua tahun lagi sudah 20 tahun, dulu pesantren rakyat ada di kontrakan kecil. Jadi, siapapun yang mengingat ketika awal dia berdiri serta apa niat baiknya, maka akan baik-baik semua, kalau NU mengingat apa niat dia didirikan, maka akan baik-baik saja semuanya,” katanya.
Thoriq, demikian dia akrab disapa, mengemukakan gagasan agar pemberdayaan di NU lebih terstruktur, maka menarik jika NU membuat bank untuk kaum dhuafa.
Ini juga sebagaimana yang dilakukan Muhammad Yunus di Bangladesh. Bagaimana, orang tak mampu diberi pinjaman tanpa agunan.
”Kan banyak penjual gorengan, UMKM yang kecil banget, dan semuanya tidak punya agunan, misal NU memberi pinjaman dan tanpa bunga bagi mereka, akan sangat membantu, bukan tak mungkin orang yang dibantu modal 5 juta misalnya, 5-10 tahun lagi bisa memperkerjakan banyak orang, maka di situ ekonomi berputar,” pungkasnya.
Sementara itu, hadir juga dalam pertemuan itu adalah Kholiq S.Pd (guru), H Zaenuddin (Kepala Sekolah SMA Al Rifa’i 2), Abdurrohman Al Mubarok, Lintar Bayu (Mubalikh Muda), Muhammad Mahrus (Koordinator JNM dan juga moderator), Yasin Arief (CEO Sabda Academy), Pengasuh Pondok Pesantren Dzunuroin Arrofiqi Pakis Gus Arif Billah, Alaudin Alex (Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Malang) dan sejumlah tokoh lain.
