Malang, Bhirawa-Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Brawijaya (UB) menggelar program “Diseminasi Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Produktivitas Minuman Herbal Berbasis Empon-Empon pada UMKM Milenial Jamu Modern Desa Gunungronggo, Kabupaten Malang.”
Program berbasis pendanaan BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini telah berjalan sejak Mei 2026 melalui tahapan persiapan, identifikasi kebutuhan mitra, sosialisasi, hingga pendampingan intensif.
Puncak rangkaian program berlangsung pada 13–15 Agustus 2026 dengan fokus pada penerapan teknologi tepat guna, pelatihan operasional peralatan, praktik pengolahan dan diversifikasi produk herbal, serta pendampingan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Baca Juga :Sapu Bersih Kategori Utama, FTAB UB Sabet Gelar Juara Umum Giraffe Award 2026
Mitra program adalah UMKM Milenial Jamu Modern, produsen jamu merek Sari Alam yang dipimpin Wardah Firdaus Pradana. UMKM beranggotakan 10 orang ini berlokasi di Dusun Argomulyo 3 RT 22 RW 04, Desa Gunungronggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.
Usaha tersebut mengolah berbagai bahan empon-empon yang sebagian diperoleh dari masyarakat sekitar, seperti jahe, kunyit, dan kencur. Ketersediaan bahan baku lokal ini menjadi potensi penting bagi pengembangan usaha sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga penyedia bahan.
Ketua Tim Pengabdian UB, Dr. Retno Damayanti, STP., MP., menjelaskan sebelum program dilaksanakan, kapasitas produksi UMKM berada pada kisaran 30 liter per hari dengan kemasan cup plastik 120 ml dan botol 600 ml.
”Proses produksi masih menghadapi keterbatasan peralatan sehingga tahapan penghancuran bahan, pemasakan, dan pengemasan membutuhkan waktu relatif lama. Selain itu, manajemen belum memiliki SOP tertulis, sistem pengendalian mutu, serta pencatatan produksi dan keuangan yang sistematis,” ujar Dr. Retno.
Dari aspek pemasaran, produk lebih banyak dijual langsung ke konsumen lokal dan grup WhatsApp. Untuk mengatasi masalah tersebut, tim UB menyalurkan bantuan teknologi tepat guna berupa mesin chopper kapasitas 16 liter (daya motor 0,5 HP), cup sealer, dan kompor.
”Mesin chopper dimanfaatkan untuk mempercepat pencacahan empon-empon agar ukurannya lebih seragam. Cup sealer mendukung pengemasan agar lebih cepat, rapat, higienis, dan rapi, sedangkan kompor menunjang proses pemasakan secara lebih efektif,” tambahnya.
Pendampingan juga mencakup penerapan SOP produksi, sanitasi, higiene, dan keselamatan kerja. Selain memperkuat proses produksi jamu cair, tim turut mendampingi diversifikasi produk berbasis empon-empon, seperti permen jeli herbal dan teh herbal celup untuk menarik segmen konsumen yang lebih luas. Mitra juga dibekali pelatihan pencatatan usaha, penguatan branding, serta pemanfaatan media sosial.
Seluruh kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan pemberdayaan partisipatif dan learning by doing. Program ini menargetkan peningkatan kapasitas produksi minimal 50 persen, pemotongan waktu produksi minimal 30 persen, penerapan SOP rutin, lahirnya minimal dua produk diversifikasi baru, serta kenaikan penjualan minimal 30 persen via pemasaran digital.
Tim Pengabdian UB diketuai Dr. Retno Damayanti, STP., MP., dengan anggota dosen Dr. Dwi Setiawan dan Dr. Eng. Elya Mufidah. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa UB, yaitu Dinda Aulia Ritonga, Rismawatul Pudiah, Aqila Syifa Aprilia, Kayla Syahla Az Zahra, Muhammad Rif’at, Nadilla As Zhafirah, Owen Fahsya Zhafier, dan Dzulfiqar Andika.
Melalui dukungan BIMA Kemdiktisaintek, kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat produktivitas dan kemandirian UMKM Jamu Sari Alam serta meningkatkan daya saing produk lokal secara berkelanjutan.mut






