Malang, Bhirawa – Kebutuhan industri bahasa yang terus melesat seiring dinamisnya komunikasi internasional mendorong Center of Excellence (CoE) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat. CoE PBA UMM menguatkan sistem pembelajaran berbasis praktik melalui kemitraan strategis bersama Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) guna mencetak translator serta interpreter yang adaptif terhadap teknologi dan konteks budaya global.
Langkah konkret tersebut diwujudkan lewat kerja sama dengan Katagonia, perusahaan penyedia layanan penerjemahan tulisan maupun lisan. Melalui program ini, mahasiswa terjun langsung ke dalam ekosistem kerja profesional, mulai dari menggarap proyek nyata, melayani klien, hingga menerapkan standar kerja internasional.
Baca Juga :Peringati HUT Ke-81 RI, UMM Tegaskan Komitmen Hadirkan Kontribusi Nyata bagi Bangsa
Co-Founder Katagonia, Sony Novian, mengapresiasi model pembelajaran CoE PBA UMM yang dinilainya sangat relevan dengan dinamika pasar kerja saat ini.
”Program CoE ini sangat bersesuaian dengan kebutuhan industri kami. Mahasiswa sudah disiapkan terlebih dahulu untuk siap di industri, sehingga kami tinggal menambahkan kemampuan dan pengalaman kerja di lapangan,” terang Sony.
Selama masa magang, para mahasiswa tidak sekadar mengamati, melainkan terlibat langsung dalam tim penerjemahan dan penjurubahasaan. Mereka mengikuti pelatihan internal, berkomunikasi dengan klien, menerjemahkan dokumen, mendukung tim interpreter, hingga menjalani proses quality check bersama penerjemah senior.
Portofolio proyek yang ditangani pun terbilang impresif. Mahasiswa berkesempatan menangani dokumen dan pekerjaan dari lembaga internasional bereputasi tinggi, seperti Bank Dunia, UNICEF, ILO, hingga berbagai badan PBB.
”Mahasiswa CoE lebih siap untuk berinteraksi langsung dengan mitra-mitra internasional. Mereka tidak canggung, lebih interaktif, dan cepat belajar ketika menghadapi pekerjaan yang belum pernah mereka lakukan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa penguasaan bahasa asing masa kini membuka peluang karier yang jauh lebih luas. Selain translator dan interpreter, mahasiswa berpeluang mengakhiri masa studi dengan mengekspansi bisnis layanan profesional maupun mengembangkan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Bagi UMM, integrasi bersama DUDI menjadi sarana vital untuk memastikan kurikulum kampus selalu selaras dengan perubahan dunia kerja. Industri tidak hanya difungsikan sebagai wadah magang, tetapi juga ruang uji kompetensi secara nyata.
”Semoga CoE ini tetap ada terus di UMM, karena ini benar-benar menyiapkan mahasiswanya untuk langsung diterjunkan ke lapangan kerja, ke dunia nyata,” pungkas Sony.mut






