Malang, Bhirawa-Dilema antara tuntutan ekonomi dan kelestarian lingkungan makin meruncing di kawasan Jawa Timur. Alih fungsi lahan agroforestri menjadi perkebunan tebu monokultur kini marak terjadi, membentang dari wilayah Malang Selatan hingga lereng Pegunungan Anjasmoro. Pergeseran komoditas ini terdorong oleh ambisi pencapaian swasembada gula nasional, yang memikat para petani untuk meninggalkan kebun kopi demi keuntungan finansial tebu yang dinilai lebih menjanjikan.
Dosen Departemen Geografi Universitas Negeri Malang (UM), Melati Julia Rahma, S.P., M.Ling., menegaskan bahwa fenomena ini membawa dampak ekologis yang serius. Konversi lahan terpadu menjadi sistem monokultur secara drastis menurunkan daya dukung lingkungan, mempertinggi risiko erosi, serta memicu penurunan kualitas tanah dan krisis ketersediaan air jangka panjang.
Menghadapi ancaman kelestarian tersebut, Universitas Negeri Malang (UM) mengambil langkah proaktif melalui pendekatan berbasis riset dan edukasi masyarakat:
Inovasi Riset Berkelanjutan: Mengembangkan pemetaan serta kajian komprehensif terkait dampak perubahan tutupan lahan guna merumuskan formulasi kebijakan konservasi yang tepat sasaran.
Baca Juga Pertemukan 66 Peserta dari 29 Negara UMiCamp 2026 Pererat Jejaring Global
Edukasi dan Pendampingan Petani: Memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat lokal mengenai pentingnya mempertahankan pola tanam agroforestri guna menjaga keseimbangan ekosistem tanpa mengorbankan produktivitas ekonomi.
Kolaborasi Multisektor: Membangun sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan komunitas petani lokal untuk merumuskan solusi berbasis kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
Langkah strategis ini diharapkan mampu menjembatani benturan kepentingan antara target ekonomi nasional dan perlindungan kawasan resapan air. UM berkomitmen hadir sebagai benteng keilmuan untuk memastikan pembangunan pertanian di Jawa Timur tetap berjalan secara seimbang dan berkelanjutan.






