Kediri, Bhirawa-Perundungan di tingkat Sekolah Dasar (SD) kerap berawal dari tindakan yang dianggap sekadar gurauan atau usil, seperti saling ejek, menjambak, hingga mendorong. Menyikapi fenomena tersebut, Kelompok 150 KKN Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar edukasi anti-perundungan bagi siswa SDN 1 dan SDN 2 Sumberbendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM berupaya memutus rantai kekerasan anak sejak dini sekaligus menumbuhkan iklim sekolah yang inklusif dan ramah anak.
Anggota KKN 150 UMM, Rafael Gading Margono, mengungkapkan bahwa program ini dirancang berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan. Saat observasi, tim mahasiswa menemukan berbagai indikasi perundungan verbal maupun fisik yang dilakukan secara berulang antar sesama siswa.
Baca Juga :Riset Lulusan HI UMM: Solomon Islands Manfaatkan Rivalitas Tiongkok-AS Demi Kepentingan Rezim
”Marak terjadi perundungan di SD, paling sering berupa olok-olokan verbal. Sementara untuk fisik, kami mendapati beberapa siswa saling menjambak dan mendorong,” ujar Rafael.
Edukasi yang menyasar peserta didik kelas 4, 5, dan 6 ini memberikan pemahaman mendalam mengenai empat klasifikasi perundungan, yakni fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying, lengkap dengan contoh kasus nyata sehari-hari.
Menariknya, mahasiswa juga menerapkan metode Butterfly Hug—sebuah teknik memeluk diri sendiri dengan menyilangkan kedua tangan di dada sambil menepuk bahu secara bergantian. Metode psikologis ini ditujukan untuk membantu anak meredakan emosi negatif dan mengenali perasaan mereka.
”Tujuannya agar terasa seperti memeluk diri sendiri dan mempermudah mereka merefleksikan emosi,” tambahnya.
Tak berhenti di situ, siswa diajak saling berpelukan serta menyampaikan apresiasi positif kepada kawan sekelas guna menguatkan empati dan sikap saling mendukung. Interaksi ini bahkan memicu kesan emosional mendalam bagi sejumlah murid yang merindukan hangatnya kasih sayang.
Dampak positif dari kegiatan ini mulai terlihat. Para siswa kini lebih peka dalam membedakan batas antara gurauan biasa dan tindakan kekerasan. Mereka juga makin berani menegur teman yang bersikap jahil.
Melalui edukasi ini, KKN UMM berharap para siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter empati yang kuat serta berani menolak segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah. mut






