Jombang, Bhirawa— Menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), kader perempuan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) didorong untuk tampil percaya diri mengisi posisi strategis di ruang publik. Peningkatan kapasitas, keberanian mengambil peran politik, hingga penguasaan strategi digital menjadi modal utama kader Korps PMII Putri (Kopri) dalam menjawab tantangan demokrasi. Pesan tegas tersebut disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Wonder Initiative Camp yang digelar Pengurus Besar (PB) Kopri PMII di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang.
”Rata-rata global keterwakilan perempuan di parlemen telah mencapai 27,5 persen. Perempuan harus berani masuk dan mengambil posisi strategis. Namun, popularitas saja tidak cukup; ia harus berjalan beriringan dengan integritas, dedikasi, dan kapasitas,” ujar senator yang akrab disapa Ning Lia tersebut.
Dalam forum yang turut dihadiri Komisioner KPU Jatim Nur Salam, politisi PKB Luluk Khamida, Wakil Ketua MPR RI Eem Marhamah, serta Ketua PB Kopri Wulansari Aliyatus Sholihah ini, Ning Lia membagikan pandangannya mengenai lanskap gerakan perempuan dan tantangan di era digital:
Integritas di Atas Popularitas:Keterlibatan perempuan dalam politik dan organisasi tidak boleh sekadar mengejar angka atau popularitas semata, melainkan didasari komitmen merepresentasikan kepentingan masyarakat secara nyata.
Strategi Digital Gen Z: Kader Kopri dituntut adaptif terhadap pola komunikasi digital. Narasi dan gagasan organisasi harus dikemas secara menarik sejak tiga detik pertama agar mampu memengaruhi ruang publik dan tidak sekadar menjadi konsumen media sosial.
Bangga Identitas Kecantikan Nahdliyin: Perempuan muda diminta tidak terjebak pada standar kecantikan luar negeri seperti tren Korea. Indonesia dan NU memiliki identitas kecantikan tersendiri yang berakar pada nilai anggun, berilmu, dan berintegritas.
Melampaui Isu Gender: Saat menduduki posisi strategis atau legislatif, kader perempuan harus membuktikan dampak kinerja nyata dan tidak lagi berkutat semata pada wacana keterwakilan gender.
Sementara itu, Ketua PB Kopri PMII, Wulansari Aliyatus Sholihah, menegaskan bahwa Wonder Initiative Camp dirancang khusus sebagai laboratorium kepemimpinan kader muda.
”Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kapasitas kader Kopri sekaligus mempersiapkan generasi pemimpin perempuan yang tangguh menghadapi dinamika demokrasi dan pesatnya perubahan ekosistem digital,” pungkas Wulansari.mut






