Malang, Bhirawa-Bawa Arca ke SDN Mergosono 2, Disdikbud Kota Malang Kenalkan Sejarah Singhasari lewat Museum KelilingDinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang terus berupaya mendekatkan warisan sejarah daerah kepada generasi muda. Melalui program Museum Keliling, Disdikbud memboyong koleksi arca ke SDN Mergosono 2, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, untuk mengenalkan jejak kerajaan masa lalu secara langsung kepada para siswa.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, mengungkapkan bahwa masih banyak siswa yang belum menyadari potensi sejarah besar di tanah kelahirannya, seperti keberadaan Kerajaan Kanjuruhan dan Singhasari.
“Selama ini banyak siswa yang belum tahu bahwa ada kerajaan besar di Malang. Lewat program ini, kami perkenalkan sejarah tersebut sekaligus membawa arca sebagai media pembelajaran interaktif,” ujar Juli.
Penanggung Jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, menambahkan bahwa SDN Mergosono 2 menjadi satu-satunya sekolah dasar di wilayah Kecamatan Kedungkandang yang dikunjungi program ini pada tahun ajaran berjalan. Para siswa tampak antusias dan aktif berinteraksi sepanjang sesi pembelajaran.
Berbeda dari edukasi sebelumnya yang berfokus pada pengenalan cagar budaya secara umum, materi kali ini mendalami sejarah Kerajaan Singhasari, ketokohan, hingga pelurusan istilah. Salah satu poin penting yang ditekankan adalah perbedaan antara Singhasari sebagai nama kerajaan dan Singosari sebagai wilayah administratif saat ini.
“Penyebutan ini terkesan sederhana, tetapi penting sebagai fondasi awal agar saat mempelajari sejarah di jenjang pendidikan berikutnya, mereka tidak keliru. Selain itu, kami juga menghubungkan materi ini dengan keberadaan Museum Mpu Purwa agar pemahaman siswa lebih utuh,” jelas Rakai.
Langkah inovatif ini mendapat apresiasi positif dari pihak sekolah. Kepala SDN Mergosono 2, Joko Yuniarto, menilai kehadiran Museum Keliling memberikan pengalaman belajar yang kontekstual bagi para murid.
“Anak-anak tidak hanya sekadar melihat bentuk fisiknya, tetapi didorong untuk memahami kisah, fungsi, dan latar belakang di balik artefak tersebut. Kami berharap edukasi ini dapat menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap sejarah lokal Malang dan mendorong mereka untuk berkunjung langsung ke Museum Mpu Purwa,” tutur Joko.
Melalui pendekatan kontekstual seperti ini, Disdikbud Kota Malang berharap jejak peradaban Kanjuruhan dan Singhasari tak sekadar menjadi hafalan di buku pelajaran, melainkan dihayati sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan masyarakat Malang. mut






