Cibinong, Bhirawa — Penggunaan teknologi molekuler dan rekayasa genetika kini terus didorong untuk menjawab tantangan industri hingga kelestarian lingkungan. Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Rekayasa Genetika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Farida Rahayu, S.Si., M.Si., Ph.D., fokus mengarahkan risetnya pada irisan bioteknologi molekuler, mikrobiologi, serta bioproses pemanfaatan mikroorganisme.
Farida, yang menuntaskan pendidikan doktoral di bidang Molecular Biotechnology di Hiroshima University, Jepang, mengungkapkan bahwa pendekatan bioproses terintegrasi menjadi kunci utama dalam efisiensi sumber daya serta pengurangan limbah.
”Konsep yang kami gunakan adalah bioproses terintegrasi. Beberapa tahapan proses biologis dan teknologi—mulai dari pemanfaatan bahan baku, perlakuan biomassa, hingga ekstraksi—dirancang sebagai satu rangkaian yang terhubung untuk meminimalkan limbah,” ujar Farida.
salah satu riset terbarunya yang dimulai pada 2025 adalah pengembangan produksi glutation. Glutation merupakan senyawa master antioksidan yang tersusun dari asam amino glutamat, sistein, dan glisin. Senyawa ini memiliki potensi aplikasi yang sangat luas pada sektor pangan, kesehatan, dan bioteknologi.
Restorasi Lahan Pisang dan Bioenergi
Selain pengembangan glutation, Farida juga terlibat aktif dalam upaya penyelamatan perkebunan pisang endemik yang terdampak penyakit layu Fusarium. Melalui desain microbial biostimulant berbasis pendekatan metagenomik dan metabolomik, riset ini diarahkan untuk merestorasi kesehatan tanah.
”Metagenomik membantu melihat potensi genetik mikroorganisme yang ada di tanah, sementara metabolomik menganalisis senyawa biologis yang dihasilkan. Pendekatan ini bukan sekadar memberi pupuk, melainkan memanfaatkan aktivitas biologis mikroorganisme untuk memulihkan lahan,” jelasnya.
Di bidang energi terbarukan, sejak 2023 Farida telah mengembangkan bakteri rekombinan termofilik asetogen asal Indonesia. Bakteri hasil rekayasa genetik yang tahan suhu tinggi ini dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk memproduksi bioetanol berbasis biomassa atau limbah pertanian. Inovasi ini bahkan telah terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa paten desain plasmid DNA bakteri termoasetogen lokal.
Solusi Pencemaran Lingkungan
Tidak hanya fokus pada industri dan energi, riset yang dijalankan juga menyasar perbaikan lingkungan melalui bioremediasi. Farida memanfaatkan bakteri ligninolitik yang memiliki kemampuan mendegradasi molekul kompleks untuk mereduksi logam berat dan melakukan dekolorisasi (penghilangan warna) pada limbah cair tekstil, farmasi, rumah sakit, hingga limbah domestik.
Langkah berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi pengembangan industri hijau di Indonesia.
”Secara keseluruhan, riset kami berfokus pada bagaimana mikroorganisme, rekayasa genetika, serta teknologi bioproses dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus memberikan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan,” pungkasnya.mut






