Malang, Bhirawa-Melimpahnya hasil panen komoditas hortikultura di wilayah dataran tinggi Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, kerap memicu anjloknya harga jual di tingkat petani, terutama saat panen raya. Menyikapi persoalan menahun tersebut, rombongan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turun tangan menggelar pelatihan inovasi olahan wortel di Desa Wiyurejo, Pujon.
Selama ini, pola niaga hasil bumi masyarakat setempat masih terpaku pada penjualan komoditas mentah kepada tengkulak. Kondisi tersebut membuat petani rentan merugi, terutama akibat melimpahnya hasil sortisan. Wortel yang berukuran kerdil, cacat fisik, atau bentuknya tidak proporsional kerap ditolak pasar dan berakhir membusuk tanpa nilai jual.
Melalui program Projek Kepemimpinan, mahasiswa PPG UMM menginisiasi diversifikasi pangan dan produk turunan berbasis wortel afkir guna memberi nilai tambah ekonomi.
Ketua Tim Mahasiswa PPG UMM, Ivone Yuliantina, menjelaskan bahwa terobosan ini menitikberatkan pada penyelamatan komoditas sortisan agar tetap mendatangkan penghasilan bagi masyarakat desa.
”Tujuan utama kami adalah mentransformasi wortel sortisan yang semula tidak bernilai pasar menjadi produk inovatif berdaya jual tinggi. Inovasi ini kami rancang agar memberi manfaat ganda, yakni menekan kerugian petani saat pasokan melimpah, sekaligus membuka peluang bisnis baru untuk mendongkrak kemandirian ekonomi ibu-ibu rumah tangga di Pujon,” terang Ivone, Kamis (15/10/2026).
Dalam agenda yang melibatkan kader PKK dan kelompok wanita tani tersebut, mahasiswa memperkenalkan dua produk olahan utama:
Veggy Gummy: Camilan sehat permen jeli kenyal berbasis sari wortel murni tanpa bahan pengawet sintetis yang ramah dikonsumsi anak-anak.
Carolive: Produk perawatan kulit (skincare) dan rambut alami yang memformulasikan ekstrak wortel segar dengan minyak zaitun untuk melembapkan kulit sekaligus menangkal penuaan dini.
Menariknya, seluruh proses produksi menerapkan konsep nirlimbah (zero waste). Ampas padat sisa ekstraksi wortel tidak dibuang, melainkan dialokasikan secara optimal sebagai pakan budidaya larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/maggot) milik warga setempat.
Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kepekaan sosial mahasiswa yang mampu menghubungkan disiplin keilmuan dengan problem nyata di lapangan. Ia berharap inisiatif ini berlanjut menjadi unit usaha produktif di tingkat desa.
”Kreativitas ini jangan berhenti sebatas pemenuhan tugas akademik. Keterampilan yang telah dibagikan harus diadopsi secara konsisten oleh warga, hingga menjadi cikal bakal terbentuknya UMKM desa yang mandiri dan berdaya saing di pasar digital,” tegas Arina.mut






