Bhirawa, Malang – Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, memaparkan materi “Fondasi dan Pilar Menuju Malang Raya Megapolitan” dalam acara Bincang Bisnis Bersama Dahlan Iskan di Kantor Bakorwil III Malang, Kamis 10/9.
Kegiatan yang digelar dalam rangka HUT ke-2 Disway Malang ini turut dihadiri jajaran Pemkab Malang, Pemkot Malang, Pemkot Batu, pengurus Kadin, PHRI, serta ratusan pelaku usaha se-Malang Raya.
Asep menjelaskan bahwa konsep megapolitan harus diposisikan sebagai wadah kolaborasi bersama untuk menggerakkan perekonomian, bukan sekadar proyek infrastruktur milik pemerintah semata.
”Posisi pemerintah adalah sebagai agen pembangunan yang memfasilitasi regulasi dan ruang gerak. Namun, penggerak utama ekonomi tetap berada di tangan dunia usaha. Tanpa keterlibatan swasta, percepatan pembangunan kawasan akan terbatas,” ujar Asep.
Menurutnya, pemerintah memiliki keterbatasan dari segi birokrasi, kewenangan, hingga anggaran. Sebaliknya, pelaku usaha memiliki fleksibilitas tinggi dalam membaca peluang pasar, mengembangkan investasi, serta berinovasi. Oleh karena itu, pilar-pilar penguat megapolitan perlu diisi oleh sektor non-pemerintah.
Modal Potensi Kawasan
Asep meyakini Malang Raya memiliki modal vital untuk bertransformasi menjadi kawasan megapolitan terpadu. Dari segi SDM, kawasan ini disokong 67 perguruan tinggi dengan 70 persen penduduk berada pada usia produktif.
Selain itu, akses konektivitas semakin padu dengan hadirnya Jalan Tol Pandaan-Malang, rencana Tol Malang-Kepanjen, Jalur Lintas Selatan (JLS), Bandara Abdul Rachman Saleh, hingga moda transportasi publik Trans Jatim.
”Potensi pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri digital di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu sangat melimpah. Yang kita butuhkan saat ini adalah mengorkestrasi seluruh potensi tersebut agar tidak berjalan sendiri-sendiri menembus sekat administratif,” tegasnya.
Pandangan ini diperkuat oleh tokoh pers dan pengusaha nasional Dahlan Iskan. Dalam sesi dialog, Dahlan mendorong para pengusaha di Malang Raya untuk memiliki kemandirian bisnis dan tidak menggantungkan diri penuh pada pemerintah.
”Jika pemerintah sudah membuka pintu dan memberikan fasilitasi regulasi, maka dunia usaha harus berani mengambil risiko dan bergerak cepat memanfaatkan peluang,” tutur Dahlan.
Melalui forum ini, Asep berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki kesepahaman peran. Malang Raya Megapolitan diharapkan tidak hanya menyatukan wilayah secara geografis, tetapi mampu menyatukan potensi ekonomi demi kesejahteraan masyarakat luas.mut












