Kadang hidup punya cara paling manis untuk memberi kejutan. Siapa sangka, aku—Santy, perempuan berhijab yang terbiasa dengan sejuknya kebun apel Malang dan syahdunya kabut Bromo—bisa menjejakkan kaki di tanah Nordik yang magis, tempat matahari tersenyum hampir sepanjang hari. Bersama langkah mungil Santy Trip yang dirintis dengan untaian doa, ini adalah pelukan pertama dari Norwegia. Langkah terjauh yang pernah kuambil dari beranda rumah.
Jujur, di sela doa-doa yang kulangitkan, sempat terselip secuil tanya yang malu-malu: Akankah mereka menyambut senyumku? Apakah hijab ini terasa asing di mata mereka? Perasaan berdebar itu sempat kurasa lebih berat daripada ransel di pundakku.
Namun semesta lekas membalasnya dengan cara yang amat lembut. Bukan dengan kata-kata muluk, melainkan melalui sentuhan kebaikan yang tulus.
Dari ramainya Oslo sampai tenangnya kota kecil Notodden, keramahan itu hadir tanpa suara bising. Seorang nenek di kereta tersenyum manis seraya membantuku mengangkat koper. Di sudut supermarket, seorang bapak menyapaku ramah dan menuntun langkahku menemukan sekotak susu oat, menyimak bahasa Norwegiaku yang masih terpatah-patah dengan sabar. Tak ada tatapan heran, yang ada hanya binar mata yang teduh. Di situ hatiku berbisik: semesta sedang merawat langkahku.
Puncak kehangatan itu kian merekah saat kakiku melangkah ke lantai dua gedung Skolandhuset, Storgata 63. Tempat itu bernama Kilden.
Awalnya kukira Kilden hanyalah pusat aktivitas biasa yang dikelola pemerintah kota. Nyatanya, Kilden adalah sebuah rumah berpelukan lapang.
Elin Løberg Pedersen, sang penggerak Kilden, menyambutku bersama teman-temannya dengan binar mata cerah. Baginya, aku bukan orang asing dari benua seberang; aku adalah Santy, seorang kawan baru. Pelukannya erat dan senyumnya merekah indah saat ia berujar, “Selamat datang di rumah, Santy.”
Di dalam, udara semerbak wangi piza hangat dan aroma seduhan kopi. Suasananya begitu hidup dan penuh warna. Ada yang asyik menari-narikan kuas di malerverksted, ada yang merangkai nada di musikkverksted, dan di dapur terdengar tawa riang sambil bersama-sama memasak bacalao. Di dinding, terpajang senyum ceria kelompok jalan santai setiap Selasa sore, bersanding manis dengan cerita kebun sayur segar di Kildens hage.
Kilden bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang teduh untuk membasuh sepi, menyemai rasa memiliki, dan merawat jiwa-jiwa agar kembali berbunga.
Ketika Elin membagikan pesan utama yang mereka jaga, hatiku bergetar haru:
”Setiap orang butuh seseorang, dan seseorang membutuhkanmu.”
Masya Allah, rasanya begitu indah. Aku menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk menemukan kembali intisari kasih yang begitu akrab di hati: bahwa kita semua terhubung, dan tak ada jiwa yang pantas merasa sendirian. Jika di kampung halamanku di Malang kita mengenalnya sebagai gotong royong dan tepa salira, di sini mereka merayakannya lewat Kilden.
Saat duduk tenang bersama para ibu, para pensiunan, dan teman-teman muda dalam sesi mindfulness, kami bernapas bersama dalam harmoni yang damai. Latar belakang kami mungkin berbeda rupa, namun ritme hati kami berdetak senada.
Awalnya aku melangkah ke Norwegia membawa bendera kecil Santy Trip untuk memburu keajaiban aurora dan megahnya pemandangan fjord. Namun di Notodden, aku justru menemukan cahaya yang jauh lebih berkilau: cahaya ketulusan hati sesama manusia.
Semoga getaran cinta yang lembut ini mengalir hingga ke sudut-sudut bumi lainnya. Mengingatkan kita semua dalam senyum yang teduh: kita selalu saling membutuhkan.
Peluk hangat,
Santy












