Cuaca Panas Picu Emosi Meningkat, Dosen Psikologi UMM Beberkan Kaitan Suhu dan Hormon Stres

Kota Malang, Bhirawa-Suhu panas ekstrem dan udara kering yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini tidak hanya memicu kelelahan fisik, tetapi juga berdampak langsung pada kestabilan emosi. Kondisi atmosfer yang dipengaruhi fenomena cuaca ini kerap membuat seseorang menjadi lebih mudah tersulut amarah dan sensitif. Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A., menerangkan bahwa rasa tidak nyaman akibat paparan suhu tinggi menimbulkan beban ganda bagi tubuh, baik secara fisik maupun psikis.

Hal ini berpijak pada teori beban stimulus (stimulus overload), yakni ketika rangsangan dari lingkungan melampaui kapasitas adaptasi normal manusia.

​”Apabila stimulus atau kondisi lingkungan yang diterima melebihi kapasitas toleransi normal tubuh, hal itu memicu lonjakan hormon kortisol. Hormon kortisol inilah salah satu pemicu utama stres,” terang Alifah, Rabu 7/10

​Alifah memaparkan, suhu panas memaksa metabolisme tubuh bekerja jauh lebih keras guna menstabilkan suhu internal. Rasa gerah dan letih yang menumpuk secara berangsur menurunkan fungsi kognitif, sehingga proses berpikir menjadi kurang optimal.

​Dampaknya, kepekaan emosional seseorang meningkat drastis. Ucapan, nada bicara, atau candaan yang sebenarnya lumrah dan netral sering kali disalahartikan sebagai tindakan yang mengganggu atau menyerang.

​”Hal-hal yang sebenarnya netral bisa mudah dimaknai negatif. Misalnya mendengar suara orang lain berbicara agak keras langsung dianggap membentak, atau gurauan santai ditangkap sebagai hinaan kasar,” ungkapnya.

​Lebih lanjut, Alifah menekankan bahwa penurunan toleransi emosi kian diperparah oleh faktor dehidrasi dan kualitas tidur yang buruk. Kurang tidur membuat otak gagal memulihkan fungsi regulasi emosi secara sempurna.

​”Tidur yang baik bukan semata-mata diukur dari panjang durasinya, melainkan kualitasnya. Sering terbangun atau tidur tidak pulas membuat pemulihan energi terganggu, sehingga seseorang rentan mengalami perubahan suasana hati ketika dihadapkan pada cuaca gerah,” urainya.

​Guna mencegah ledakan emosi di tengah terik matahari, Alifah menyarankan masyarakat untuk segera memutus stimulus panas begitu rasa tidak nyaman muncul. Langkah-langkah fisik sederhana dapat membantu menurunkan ketegangan saraf secara cepat.

​”Segera berteduh ke tempat yang sejuk, konsumsi air minum untuk mencegah dehidrasi, atau basuh wajah dengan air dingin agar tubuh lekas rileks kembali,” imbuhnya.

​Di samping perlindungan fisik, ia juga mengimbau pentingnya kesadaran diri (self-awareness) dalam mengenali batas stres personal. Dengan memahami pemicu suasana hati, mencukupi cairan tubuh, serta menjaga pola tidur, masyarakat dapat lebih adaptif mengendalikan emosi kendati cuaca panas masih membayangi.mut

​

​

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *