Dosen FBiPK UB Patenkan Teknologi Induksi Poliploidi Bawang Merah

Kota Malang, Bhirawa-Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) sukses mengembangkan inovasi pemuliaan tanaman berupa prosedur induksi poliploidi pada bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) memanfaatkan zat kolkisin.

​Atas inovasi tersebut, tim peneliti berhasil mengantongi sertifikat perlindungan Paten Sederhana Nomor IDS000013797 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum Republik Indonesia pada 2026.

​Inovasi bertajuk “Prosedur Induksi Poliploidi pada Tanaman Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) Menggunakan Kolkisin” ini diracik oleh tim dosen UB yang terdiri atas Dr. Darmawan Saptadi, S.P., M.P., Dr. Budi Waluyo, S.P., M.P., dan M. Alif Kaisar Syahrir, S.P. Hak patennya tercatat atas nama Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi UB.

​Ketua Tim Peneliti, Dr. Darmawan Saptadi menjelaskan bahwa teknologi ini memanfaatkan kolkisin sebagai agen induksi untuk memicu terjadinya poliploidi, yaitu kondisi bertambahnya jumlah set kromosom pada tanaman.

“Prosedur Induksi Poliploidi pada Tanaman Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) Menggunakan Kolkisin”

​”Induksi poliploidi membuka peluang besar untuk menghasilkan keragaman genetik baru yang nantinya dapat diseleksi dalam program pemuliaan. Pada bawang merah, keragaman ini menjadi modal awal n88 untuk memperoleh karakter tanaman yang sesuai kebutuhan produksi dan tantangan budidaya ke depan,” ujar Darmawan.

​Menurutnya, peningkatan produksi pertanian tidak bisa hanya mengandalkan penambahan input budidaya, tetapi perlu menyasar perbaikan karakter genetik sebagai strategi jangka panjang.

​Dalam dokumen patennya, tahapan prosedur dilakukan mulai dari persiapan umbi, pemberian perlakuan larutan kolkisin dalam beberapa tingkat konsentrasi (500 ppm, 750 ppm, 1.000 ppm, dan 1.250 ppm) dengan perendaman selama 12 jam, hingga proses penanaman dan evaluasi.

​Sementara itu, anggota tim peneliti Dr. Budi Waluyo menambahkan, bawang merah merupakan komoditas hortikultura strategis yang berdampak langsung pada ekonomi petani dan stabilitas harga pangan nasional. Oleh karena itu, ketersediaan keragaman genetik sangat penting bagi seorang pemulia tanaman.

​”Semakin luas keragaman genetik yang bisa kita hasilkan dan identifikasi, semakin besar peluang mendapatkan varietas unggul. Namun, metode ini masih memerlukan pengujian lanjutan terkait kestabilan sifat dan potensi agronomisnya di lapangan,” terang Budi.

​Perolehan Paten Sederhana yang berlaku selama 10 tahun ini menjadi pijakan awal proses hilirisasi. Material bawang merah hasil induksi selanjutnya akan memasuki tahap karakterisasi, seleksi morfologi, produktivitas, serta evaluasi genetik-sitogenetik.

​Inovasi dari FBiPK UB ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan tuntutan efisiensi pangan, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4, 9, dan 15.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed