Malang, Bhirawa– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN Mas) Kelompok 98 menghadirkan inovasi alat penabur pupuk efisien dan briket dari limbah bonggol jagung untuk mendukung produktivitas petani di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Langkah ini diambil guna mengatasi tantangan keterbatasan tenaga kerja pemupukan sekaligus meminimalkan limbah pertanian yang belum terkelola optimal.
Program pengabdian masyarakat bertajuk penyerahan alat dan pelatihan pembuatan briket tersebut menyasar Kelompok Tani Dusun Nongkosongo dan Dusun Sumberingin di Balai Desa Wringinsongo. Dalam agenda tersebut, para petani terlibat langsung mempraktikkan penggunaan alat penabur pupuk serta pengolahan bonggol jagung menjadi bahan bakar alternatif.
Ketua Kelompok KKN Mas 98, Gibran El Ghifari, menjelaskan bahwa program kerja ini dirancang langsung berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan dan potensi utama masyarakat lokal.
”Kelompok 98 memilih kedua program tersebut karena melihat potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Wringinsongo yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian,” ungkap Gibran.
Baca Juga :Saham Sawit Melesat saat Karhutla Kalimantan, Pengamat UMM Ungkap Faktor Pemicunya
Penggunaan alat penabur pupuk mekanis ini dirancang agar pemupukan menjadi lebih praktis, cepat, dan terukur secara takaran. Di sisi lain, inovasi pembuatan arang briket mengubah bonggol jagung yang tadinya sekadar limbah menjadi sumber energi alternatif bernilai guna.
Respon positif datang dari Ketua Kelompok Tani Sejahtera 1, Supri Yanto. Ia mengapresiasi transfer pengetahuan yang diberikan mahasiswa KKN Mas karena membawa dampak langsung bagi anggotanya.
”Sangat terima kasih sekali untuk menjadikan ilmu buat kelompok tani kami di Sejahtera 1 ini. Mudah-mudahan bermanfaat secara berkelanjutan,” tuturnya.
Senada dengan hal itu, Kepala Dusun Nongkosongo, Budi Utomo, mengakui efisiensi dari alat penabur pupuk tersebut. Selama ini, pola pemupukan masih dilakukan secara manual menggunakan tangan.
”Dengan alat ini pemupukan bisa jauh lebih efisien waktu dan hasilnya lebih merata. Harapannya inovasi ini terus dimanfaatkan petani meski masa KKN telah usai,” jelas Budi.
Sebagai informasi, KKN Mas 2026 merupakan program pengabdian nasional gabungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia, dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertindak sebagai tuan rumah penyelenggara. Melalui teknologi tepat guna berbasis sumber daya lokal, KKN Mas Kelompok 98 optimistis dapat meningkatkan kemandirian dan efisiensi pertanian desa.mut











