Guru Besar UM : Prof Bambang Sumarsono Tegaskan Kepercayaan Jadi Fondasi Partisipasi Publik dan Tata Kelola Sekolah

 

​Kota Malang, Bhirawa – Guru Besar UM Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd.,.menyebut  paradigma pelibatan masyarakat dan orang tua dalam ekosistem pendidikan dinilai perlu dirombak secara mendasar. Partisipasi publik tidak boleh lagi sekadar dipandang sebagai kehadiran fisik dalam rapat atau sebatas bantuan materi, melainkan wujud kemitraan strategis yang bermakna dan akuntabel demi mendongkrak mutu pendidikan.

​ Guru Besar Bidang Manajemen Partisipasi Masyarakat   dalam pidato pengukuhannya bertajuk “Kepercayaan sebagai Fondasi Partisipasi: Transformasi Tata Kelola Sekolah Menuju Pendidikan yang Akuntabel dan Responsif”.

​Menurut Prof. Bambang, tantangan dunia persekolahan saat ini bertumpu pada tiga hal krusial: tuntutan akuntabilitas publik, transparansi informasi, serta partisipasi substantif dari orang tua siswa. Lemahnya partisipasi yang kerap ditemui selama ini bukan semata-mata akibat ketidakpedulian masyarakat, melainkan rapuhnya tata kelola, minimnya akses informasi yang valid, serta belum terbangunnya rasa saling percaya.

​”Kepercayaan mampu mengonversi relasi transaksional menjadi kolaboratif. Ketika tata kelola sekolah transparan dan responsif, masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai penerima layanan pasif, melainkan mitra strategis yang memiliki suara dan pengaruh dalam pengambilan kebijakan,” papar Prof. Bambang.

​Untuk menjawab tantangan tersebut, ia memetakan kerangka konseptual inovatif bernama Integrated Information-Trust-Participation Framework (ITP-Model). Model ini mengintegrasikan empat ranah utama yang saling berkaitan erat:

• ​Akuntabilitas Tata Kelola Sekolah (School Governance Accountability) Menitikberatkan pada transparansi manajerial, tanggung jawab, dan kepatuhan (compliance). Akuntabilitas tidak sekadar urusan administrasi, melainkan komitmen moral bagaimana kebijakan dan sumber daya dikelola secara terbuka dan adil.

• ​Kualitas Layanan Informasi (Information Service Quality) Penyediaan kanal komunikasi yang mudah diakses, akurat, dan interaktif. Temuan empiris membuktikan bahwa kualitas layanan informasi memegang peranan paling dominan dalam membentuk kepercayaan masyarakat terhadap institusi sekolah.

• ​Kepercayaan Publik (Public Trust) Kepercayaan merupakan modal sosial sekaligus tantangan relasional. Menariknya, ITP-Model membedah potensi fenomena delegation effect, yakni tingkat kepercayaan orang tua yang terlampau tinggi tanpa disertai ruang pelibatan justru dapat memicu kepasifan, karena orang tua menganggap sekolah sudah sepenuhnya mampu berjalan sendiri. Oleh karenanya, kepercayaan harus dijadikan sarana pembuka ruang dialog.

• ​Partisipasi Substantif Orang Tua (Substantive Parental Participation) Keterlibatan diukur dari kedalaman peran, mulai dari memberikan suara (voice), keterlibatan (involvement), kontribusi, kolaborasi, hingga pengambilan keputusan bersama (shared responsibility) lewat enam pilar kemitraan pendidikan.

​Melalui implementasi ITP-Model, Prof. Bambang menegaskan bahwa penguatan tata kelola sekolah bukan sekadar memperbanyak program seremonial pelibatan wali murid.

​”Kepercayaan memberi dasar bagi kebersamaan, partisipasi memberi ruang bagi kebersamaan untuk bekerja, dan tanggung jawab bersama memberi arah bagi kebersamaan guna mewujudkan pendidikan yang akuntabel dan responsif,” pungkasnya. mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *