IHSG Anjlok ke Level 4.900 Imbas Sentimen Global, Pakar UMM Beberkan Strategi Amankan Portofolio Saham

Malang, Bhirawa — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam hingga menyentuh level 4.900. Merespons tren penurunan tersebut, Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Muhammad Jihadi, M.Si., menilai pelemahan pasar modal domestik dipicu oleh sentimen negatif berskala global, khususnya sorotan tajam dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

​Jihadi menerangkan, persoalan bermula dari temuan MSCI terkait ketidaksesuaian struktur kepemilikan saham publik atau free float di Indonesia.

​”Penyebab utamanya adalah ketidakpercayaan lembaga pengindeks internasional. MSCI menemukan bahwa batas free float lima persen di pasar modal domestik justru dikuasai pihak-pihak tertentu yang terafiliasi dengan emiten besar. Dampaknya, muncul ancaman penurunan status indeks Indonesia ke kategori Frontier atau Standalone,” papar Jihadi, Senin 19/10.

​Sentimen tersebut memicu kepanikan investor hingga terjadi arus modal keluar (capital outflow) dari pihak asing sebesar Rp132 triliun. Kondisi ini kian memburuk saat investor ritel terimbas aksi jual panik (panic selling), yang menyeret saham-saham berkapitalisasi besar seperti BCA, Telkom, dan BRI ke batas Auto Reject Bawah (ARB).

​Jihadi memproyeksikan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi.

​”Saat ini mayoritas pelaku pasar memilih strategi wait and see atau hit and run. Ada potensi indeks melemah ke bawah level 4.000, sejalan dengan simulasi uji ketahanan (stress test) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebelumnya menakar angka 4.200,” jelasnya.

​Menghadapi kondisi pasar yang berfluktuasi tinggi, Jihadi mengimbau investor ritel tidak terburu-buru mengambil langkah spekulatif. Bagi pemodal dengan likuiditas terbatas, menahan kepemilikan aset (hold) dinilai lebih rasional ketimbang memaksakan pembelian bertahap (averaging down).

​Jika terpaksa melakukan pembatasan rugi (cut loss), dana likuid disarankan dialihkan sementara ke instrumen berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang maupun Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Ia menegaskan, penurunan harga pada saham-saham perbankan unggulan saat ini murni disebabkan tekanan sentimen psikologis, bukan pelemahan fundamental.

​Kendati demikian, ia mengingatkan adanya efek domino ke sektor riil. Pelemahan pasar modal dan arus keluar devisa dapat menekan nilai tukar rupiah, yang berisiko menaikkan beban impor bahan bakar minyak (BBM), meningkatkan tarif logistik, serta memicu kenaikan harga pangan pokok.

​Jihadi mendesak pemerintah dan otoritas bursa segera mengambil langkah nyata dalam memulihkan kredibilitas pasar.

​”Pemerintah perlu melakukan komunikasi aktif dengan pihak MSCI sebelum penetapan status resmi pada pertengahan 2027. Selain itu, penegakan regulasi batas kepemilikan free float harus diterapkan secara tegas demi mencegah manipulasi pasar dan perdagangan orang dalam (insider trading),” tandasnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *