Pasuruan, Bhirawa— SMAN 1 Purwosari, Kabupaten Pasuruan, terus menunjukkan komitmennya dalam memanfaatkan teknologi di lingkungan sekolah. Tak sekadar untuk kegiatan belajar-mengajar, sekolah ini sukses menerapkan konsep demokrasi digital berbasis pendidikan karakter yang mencatatkan rekor zero alias nol kecurangan.
Kepala SMAN 1 Purwosari, Trisnurini, menegaskan bahwa pemahaman demokrasi bagi peserta didik tidak cukup hanya sebatas teori di dalam kelas. Menurutnya, siswa perlu terlibat langsung agar mampu memahami esensi kejujuran dan rasa tanggung jawab dari setiap hak pilih yang mereka gunakan.
“Demokrasi tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Siswa perlu merasakan dan mempraktikkannya secara langsung. Melalui demokrasi digital ini, kami ingin menanamkan kejujuran, tanggung jawab, sekaligus menghargai setiap pilihan yang ada,” ujar Trisnurini.
Ia menambahkan, kemajuan teknologi harus selalu dibarengi dengan penanaman nilai karakter. Fokus utama sekolah bukan sekadar kecanggihan alat yang digunakan, melainkan proses pembelajaran siswa dalam bersikap jujur dan menghormati hasil akhir keputusan bersama.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Humas SMAN 1 Purwosari, Mahfudz, menilai langkah ini sebagai bentuk efisiensi dan transparansi kegiatan sekolah yang melibatkan seluruh elemen siswa. Melalui sistem ini, siswa diajak untuk bijak dalam memanfaatkan teknologi secara etis.
“Siswa belajar bahwa teknologi bisa digunakan untuk mendukung proses demokrasi secara lebih tertib dan transparan. Harapannya, mereka tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memahami etika dan konsekuensi dari pilihan mereka,” jelas Mahfudz.
Dari sudut pandang pembinaan kesiswaan, Wakasek Bidang Kesiswaan SMAN 1 Purwosari, Totok, menyebut dinamika ini sebagai ruang pembelajaran sosial yang nyata. Menurut Totok, perbedaan pilihan di dalam sistem digital menjadi sarana melatih kedewasaan siswa dalam menyikapi keberagaman pendapat.
“Yang kami tekankan adalah bagaimana siswa menggunakan hak pilihnya dengan penuh tanggung jawab, menghormati pilihan orang lain, dan menerima hasil keputusan secara dewasa,” kata Totok.
Penerapan demokrasi digital di SMAN 1 Purwosari membuktikan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan mampu melampaui efektivitas teknis semata. Lebih dari itu, sistem ini efektif menjadi instrumen pembentukan karakter, penguatan integritas, serta budaya demokrasi yang sehat sejak dini.mut






