Kembangkan AI Konservasi Mangrove, Mahasiswa UMM Sabet Medali Perunggu di Malaysia

Malang, Bhirawa — Inovasi pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir berhasil mengantarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menorehkan prestasi di kancah internasional. Tim Kampus Putih ini sukses menyabet medali perunggu (Bronze Medal) dalam ajang International Student Summit (ISS) ke-3 di Kuala Lumpur, Malaysia.

​Prestasi bergengsi tersebut diraih melalui kompetisi esai subtema teknologi garapan Sentosa Foundation belum lama ini. Ajang yang  mempertemukan delegasi mahasiswa dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga India.

​Tim UMM mengusung inovasi bertajuk Mangrove Guard, yakni konsep pemanfaatan integrasi teknologi AI dan Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS). Sistem ini dirancang untuk menganalisis data lingkungan sekaligus memetakan kawasan pesisir yang membutuhkan prioritas pemulihan secara presisi.

​Tim lintas disiplin ilmu tersebut digawangi oleh Julian Abi Mustofa Nabila dan Wildan Noverliansyah Umasugi dari Program Studi Informatika (Fakultas Teknik), serta Navila Mecca dari Program Studi Kehutanan (Fakultas Pertanian dan Peternakan). Ketiganya merupakan mahasiswa angkatan 2024 yang memadukan keahlian komputasi dengan wawasan konservasi lingkungan.

​Perwakilan tim, Julian Abi Mustofa Nabila, menjelaskan bahwa gagasan Mangrove Guard lahir dari kegelisahan terhadap metode rehabilitasi pesisir konvensional yang kerap mengabaikan akurasi data spasial.

​”Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya bertumpu pada penanaman kembali, tetapi sangat ditentukan oleh ketepatan informasi kondisi lingkungan serta pemilihan titik lokasi yang tepat sasaran,” ujar Julian, Sabtu 17/10.

​Melalui Mangrove Guard, tim memadukan data iklim ERA5-Land dengan algoritma random forest untuk memproses parameter lingkungan secara akurat. Mahasiswa Informatika berperan merancang arsitektur data dan sistem digital, sementara mahasiswa Kehutanan menganalisis karakteristik ekologi vegetasi pantai.

​”Kami ingin membuktikan bahwa teknologi AI dapat diterapkan secara nyata untuk mendukung pelestarian lingkungan serta pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan,” tambahnya.

​Meski menghadapi tantangan adaptasi materi lintas jurusan dan kewajiban presentasi berbahasa Inggris di hadapan dewan juri mancanegara, tim terus mematangkan persiapan di sela perjalanan, mulai dari stasiun, bandara, hingga hotel. Langkah tim ini juga didukung penuh oleh pihak kemahasiswaan UMM, Prodi Kehutanan, serta UKM Forum Diskusi Ilmiah.

​Julian berharap torehan prestasi ini dapat memantik semangat rekan-rekan mahasiswa lain untuk aktif berinovasi dan tidak gentar bersaing di level internasional.

​”Jangan pernah takut gagal, karena kegagalan adalah langkah awal dalam berproses menuju keberhasilan,” pungkasnya. mut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *