Malang, Bhirawa — Pemanfaatan limbah industri kelapa sawit berupa bungkil inti sawit berpotensi menjadi salah satu solusi untuk menjaga ketersediaan nutrisi ternak, khususnya sapi perah. Selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, bungkil sawit berpeluang menjadi pakan komplementer atau pelengkap, terutama ketika ketersediaan hijauan menurun pada musim kemarau. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus kegiatan Workshop dan Aksi Nyata Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkuler yang diselenggarakan atas kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair). Kegiatan ini berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Gedung GKSI Jawa Timur.
Atik Purmiyati, S.E., M.Si., Ph.D., merupakan bagian dari tim LPEP FEB Unair yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Program ini bertujuan mendorong pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang pengembangan usaha pakan ternak yang lebih efisien dan beberkelanjutan.
Menurutnya, Bungkil inti sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan pelengkap untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, bukan sebagai satu-satunya sumber pakan. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan formulasi dan kebutuhan nutrisi ternak serta dikombinasikan dengan bahan pakan lain, seperti rumput, silase jagung, hijauan fermentasi, maupun konsentrat.
“Pemanfaatan bungkil sawit juga berpotensi membantu peternak menghadapi keterbatasan hijauan, khususnya pada musim kemarau. Dengan pengolahan dan formulasi yang tepat, hasil samping industri kelapa sawit tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih produktif untuk mendukung keberlanjutan usaha peternakan,”terangnya.
Koperasi Berperan Menekan Biaya Produksi
Selain aspek teknis pengolahan pakan, penguatan kelembagaan peternak menjadi faktor penting dalam mengembangkan pemanfaatan bungkil sawit. Peternak rakyat yang memiliki satu hingga dua ekor sapi umumnya menghadapi keterbatasan modal dan daya tawar ketika membeli bahan pakan secara mandiri.
Melalui koperasi, kata dia, kebutuhan bahan baku pakan dapat dihimpun dan dibeli secara kolektif dalam jumlah lebih besar. Pola pengadaan bersama ini berpotensi meningkatkan efisiensi pembelian, memperkuat posisi tawar peternak, serta membantu menekan biaya produksi.
Koperasi juga dapat berperan dalam penyediaan bahan baku, pengolahan pakan, pengendalian mutu, hingga pemasaran produk. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi wadah bagi peternak untuk berhimpun, tetapi juga dapat berkembang menjadi penggerak usaha produktif berbasis potensi lokal.
“Pengembangan model tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkuler, yakni memanfaatkan kembali hasil samping suatu kegiatan ekonomi agar memiliki nilai tambah dan dapat digunakan dalam kegiatan produksi lainnya. Dalam konteks ini, limbah industri kelapa sawit berpeluang menjadi bahan baku pakan ternak, sementara koperasi dapat menghubungkan penyedia bahan baku dengan kelompok peternak sebagai pengguna,”tambahnya.
Pengolahan Praktis dan Berpotensi Dikembangkan
Pengolahan pakan berbasis bungkil sawit dapat dikembangkan melalui tahapan penyiapan bahan, pencacahan hijauan, pencampuran sesuai formulasi, hingga fermentasi apabila menggunakan metode tersebut. Pelaksanaannya perlu memperhatikan kebersihan bahan, takaran campuran, kondisi fermentasi, dan kualitas hasil akhir agar pakan aman serta sesuai dengan kebutuhan ternak.
Melalui workshop dan aksi nyata yang berlangsung selama tiga hari ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah kelapa sawit, tetapi juga mengembangkan keterampilan pengolahan pakan serta mengidentifikasi peluang usaha yang dapat dijalankan secara berkelompok.
Kolaborasi BPDP dan LPEP FEB Unair diharapkan dapat mendorong terciptanya model pemanfaatan limbah yang memberikan manfaat ekonomi bagi peternak, koperasi, dan pelaku usaha terkait. Dengan dukungan teknologi pengolahan, penguatan kelembagaan, serta pengelolaan usaha yang baik, inovasi pakan berbasis limbah sawit berpotensi meningkatkan efisiensi usaha peternakan sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkuler di tingkat masyarakat.mut






