Momen Hardiknas Rektor UB Ajak Akademisi Jadi Pencipta Ilmu

Gelar Upacara Hardiknas UB Beri Penghargaan dosen berprestasi

Kota Malang, Bhirawa

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum spesial bagi Universitas Brawijaya (UB). Tak sekadar seremonial, UB memberikan kado berupa penghargaan kepada 61 dosen yang berhasil merampungkan studi jenjang S3 (Doktor) sebagai langkah nyata memperkuat pilar inovasi perguruan tinggi.

​Upacara yang digelar di Lapangan Rektorat UB, Sabtu (2/5/2026) kemarin, berlangsung khidmat dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., bertindak langsung sebagai instruktur upacara.

Prof. Widodo menekankan perlunya pergeseran paradigma pendidikan di Indonesia. Ia memacu para civitas akademika untuk tidak lagi hanya menjadi konsumen atau pengguna ilmu pengetahuan, melainkan bertransformasi menjadi pencipta (creator).

​”Masa depan Indonesia tidak diwariskan, melainkan dibangun melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen bersama. Pendidikan tidak diukur dari tebalnya laporan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat,” tegas Prof. Widodo saat membacakan pidato Menteri Pendidikan.

​Penghargaan kepada 61 dosen yang meraih gelar Doktor tahun ini menjadi sorotan utama. Direktur Direktorat Sumber Daya Manusia UB, Prof. Dr. Sukarmi, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa apresiasi ini merupakan bagian dari program strategis pengembangan SDM untuk mendongkrak kualitas pengajaran dan riset.

​”Kami terus mendorong dosen yang masih bergelar Magister untuk segera lanjut ke jenjang Doktoral. Gelar Doktor adalah syarat minimal untuk mengajar di pascasarjana dan menjadi kunci inovasi perguruan tinggi di era teknologi informasi,” ujar Prof. Sukarmi.

​Salah satu penerima penghargaan, dr. Ali Haedar, Ph.D., yang baru saja menyelesaikan studi di Kokushikan University, Tokyo, Jepang, membuktikan bahwa riset doktoral dosen UB memiliki relevansi tinggi bagi masyarakat. Disertasinya fokus pada transformasi Emergency Medical Services (EMS) untuk meningkatkan keselamatan pasien henti jantung di luar rumah sakit (out-of-hospital cardiac arrest).

​”Bersama UB, saya berkomitmen untuk mendorong penguatan sistem emergency care, sekaligus menjembatani riset dengan implementasi nyata dalam layanan kesehatan di Indonesia,” ungkap spesialis kegawatdaruratan tersebut.

​Para dosen yang mendapat penghargaan berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari FILKOM, FK, FISIP, hingga Teknik. Beberapa di antaranya adalah:

​FILKOM: Rekyan Regasari Mardi Putri, Ph.D., Randy Cahya Wihandika, Ph.D.

​FK: dr. Dewi Mustika, Ph.D., Dr. dr. Iriana Maharani, dr. Rivo Yudhinata Brian Nugraha, Ph.D.

​FISIP: Dr. Dyan Rahmiati, Dr. Unita Werdi Rahajeng, Ayu Kusumastuti, Ph.D.

​FT: Dr. Ir. Bhondana Bayu Brahmana K., Ir. Ananda Insan Firdausy, Ph.D.

​Melalui penambahan puluhan tenaga pengajar berkualifikasi Doktor ini, UB optimis mampu terus menanam benih masa depan bagi kemajuan bangsa dari ruang kelas, laboratorium, hingga pelosok desa.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *