Museum Keliling Disdikbud Sambangi SMPN 15 Malang, Siswa Diajak Kenali Sejarah Lokal

 

Malang, Bhirawa— Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang kembali menggelar program Museum Keliling. Kali ini, kegiatan dipusatkan di SMPN 15 Malang untuk mengenalkan sejarah, budaya, dan peninggalan bersejarah Malang Raya kepada para siswa.

​Melalui program ini, siswa dapat melihat dan mempelajari secara langsung berbagai koleksi serta replika artefak yang tersimpan di Museum Mpu Purwa Kota Malang tanpa harus datang ke lokasi museum.

​Kepala SMPN 15 Malang, Suwaiba, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting bagi siswa untuk memahami makna mendalam di balik benda-benda peninggalan masa lalu.

​“Dari benda-benda yang ada di museum, kita bisa melihat cerita di baliknya—bagaimana tradisi dan kehidupan masyarakat masa lalu hingga kita berada di masa sekarang,” ujar Suwaiba.

​Ia menekankan pentingnya penguatan pemahaman sejarah dan budaya lokal di tengah pesatnya arus teknologi dan budaya luar agar generasi muda tidak kehilangan jati diri bangsa.

​Kenalkan Artefak dan Tokoh Sejarah Lokal

​Penanggung Jawab Museum Keliling Disdikbud Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi (Sam Raka), menjelaskan bahwa program tahunan Bidang Kebudayaan ini menyasar SMP negeri dan swasta secara bergiliran.

​Beberapa koleksi dan replika yang diboyong ke SMPN 15 Malang antara lain:Replika topeng, Keris dan mata tombak, Arca megalitik muda (diduga Arca Panji), ’Replika Arca Prajnaparamita (Arca Ken Dedes)

​Selain mengenalkan artefak, program ini bertindak sebagai ruang untuk meluruskan kekeliruan pemahaman siswa terkait sejarah lokal.

​“Ketika dipancing pertanyaan tentang tokoh lokal seperti Mpu Purwa dan Tunggul Ametung, masih ada yang kurang mengerti. Penyebutan nama Ken Dedes pun masih sering keliru. Hal-hal seperti ini yang perlu kita luruskan,” jelas Sam Raka.

Jadwal dan Harapan Pelestarian

​Selama program berlangsung pada 2026, Museum Keliling dijadwalkan hadir tiga kali sepekan—setiap Senin, Rabu, dan Kamis—selama kurang lebih satu bulan.

​Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Juli Handayani, menegaskan bahwa program ini dirancang agar siswa memahami konteks, proses penemuan, serta nilai penting pelestarian warisan budaya.

​Sam Raka berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian generasi muda terhadap identitas daerahnya.

​“Intinya, jangan melupakan peninggalan lokal kita. Kita harus menghormati peninggalan budaya dari sisi akademik dan pelestarian, bukan dari sisi keyakinan,” pungkasknya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *