Khairen menyoroti tingginya ekspektasi sosial dan sistem pendidikan saat ini yang dinilai kaku.
Kota Malang, Bhirawa
Fenomena lulusan perguruan tinggi yang minim keterampilan praktis dan sekadar mengejar formalitas akademik menjadi sorotan tajam dalam acara bincang santai bertajuk “Nyore Sastra” yang digelar di area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/7) sore.
Hadir sebagai narasumber utama, penulis novel fenomenal “Kami (Bukan) Sarjana Kertas”, J.S. Khairen. Di hadapan ratusan mahasiswa, pria yang akrab disapa Bang Khairen ini mengupas tuntas bahaya jebakan formalitas akademik sekaligus membagikan kiat sukses melahirkan karya tulis yang memikat.
Dalam pemaparannya, Khairen menyoroti tingginya ekspektasi sosial dan sistem pendidikan saat ini yang dinilai kaku. Banyak mahasiswa merasa tertekan oleh tuntutan orang tua maupun ekosistem kampus, sehingga berdampak buruk pada lahirnya generasi yang sekadar memegang ijazah kelulusan, namun kebingungan menentukan arah hidup saat terjun ke masyarakat.
”Ekosistem yang menekan dari ekspektasi orang tua hingga mahasiswa yang tersesat memilih jurusan, pada akhirnya hanya akan melahirkan satu generasi represif yang sekadar menjadi sarjana kertas,” tegas Khairen.
Guna menghindari sindrom tersebut, ia mengajak para mahasiswa untuk aktif membekali diri dengan ragam keterampilan di luar disiplin ilmu utama, salah satunya melalui penguatan literasi. Khairen juga membagikan tips konkret penulisan buku bagi pemula, mulai dari membangun kebiasaan membaca setiap hari, memperkaya pengalaman hidup, hingga trik meramu penokohan karakter yang matang dan bermakna.
”Pemberian nama tokoh harus sesuai dengan sifat, pesan, atau makna yang dibawa oleh karakter tersebut, sehingga pembaca bisa langsung menangkap esensi cerita dengan kuat,” urainya memberikan contoh praktis.
Kendati demikian, Khairen mewanti-wanti penulis pemula agar tidak terburu-buru menjadikan profesi menulis sebagai sumber penghasilan tunggal (full-time writer). Menurutnya, seorang penulis wajib memiliki modal finansial yang stabil dan pengalaman hidup yang memadai agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman makna.
Antusiasme peserta kian memuncak di akhir sesi, saat mahasiswa secara serentak menuliskan harapan serta definisi “Bukan Sarjana Kertas” di selembar kertas, lalu menancapkannya pada papan styrofoam raksasa sebagai bentuk komitmen diri.
Merespons fenomena ini dari sudut pandang akademis, pakar sosiolinguistik sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa esensi gelar kesarjanaan menuntut pembuktian kompetensi yang nyata di lapangan.
Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) UMM ini berharap, diskusi berkonsep outdoor ini mampu memantik kesadaran kolektif mahasiswa bahwa ijazah wajib dibarengi kualitas diri.
”Sarjana itu tidak cukup. Harus memiliki pengalaman, harus memiliki skill, harus ditopang dengan keberanian dan kemampuan yang lain. Jadi tidak cukup sebatas diwisuda dan punya kertas ijazahnya,” tandas Dr. Isnaini.mut





