Diskusi Publik bertajuk “Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif”
Kota Malang, Bhirawa
Perubahan lanskap geopolitik dunia saat ini membawa tantangan baru yang tidak lagi identik dengan peperangan fisik. Ancaman terhadap kedaulatan negara kini telah bergeser ke ranah geo-ekonomi, teknologi informasi, serta dunia siber yang semakin sulit dikenali secara kasat mata.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif” yang diinisiasi para aktivis mahasiswa di Cafe Hyde, Lowokwaru, Kota Malang, Rabu (17/6) kemarin.
Hadir sebagai narasumber utama dalam forum tersebut yakni Ahli Geopolitik dan Media Yusuf R Hakim, Staf Ahli Kementerian HAM Penta Peturun, serta Ahli Pertahanan dan Keamanan yang juga Direktur Eksekutif IDSPS Mufti Makarim.
Dalam pemaparannya, Yusuf R Hakim menjelaskan bahwa paradigma pertahanan negara telah mengalami transformasi besar. Jika pada masa lalu kekuatan negara ditentukan oleh penguasaan wilayah teritorial, maka kini dunia memasuki era di mana ruang siber menjadi medan strategis.
“Negara modern saat ini sudah bergerak menguasai dunia siber. Muncul karakter keempat sebagai matra baru yang sangat menentukan, yaitu media massa dan dunia digital. Ancaman utama kita hari ini justru diawali dari sektor geo-ekonomi, bukan militer langsung,” ujar Yusuf.
Menurutnya, perang modern saat ini lebih banyak memanfaatkan instrumen penguasaan informasi, manipulasi opini publik, hingga penyebaran disinformasi yang mampu menggoyang stabilitas sosial dan politik suatu negara.
Yusuf menambahkan, berdasarkan tren digital saat ini, sekitar 70 persen masyarakat lebih banyak mengonsumsi informasi melalui media sosial daripada media arus utama. Kondisi ini rentan dimanfaatkan oleh algoritma digital untuk membentuk polarisasi masyarakat secara sistematis.
“Kemarahan dan sentimen negatif sengaja diolah serta diproduksi di dunia maya, lalu ditarik ke dalam kehidupan nyata. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita sangat membutuhkan generasi muda yang tetap berpikir kritis dan realistis,” tegasnya.
Sementara itu, Staf Ahli Kementerian HAM Penta Peturun menyoroti posisi strategis Indonesia dalam kompetisi global. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan pasar domestik yang besar, Indonesia kerap menjadi pusaran kepentingan banyak pihak.
“Dalam konteks global, semua hal bisa terjadi. Oleh karena itu, kita harus jeli dalam membaca serta menempatkan posisi Indonesia di tengah sengitnya dinamika politik global,” kata Penta.
Di sisi lain, jalannya diskusi yang diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jatim ini berlangsung dinamis. Koordinator Wilayah Bank PTN UJATI asal Tuban, Hasan Husaini menilai mahasiswa harus memahami persoalan secara utuh sebelum mengambil sikap atau melakukan gerakan sosial.
“Mahasiswa perlu terus berdiskusi untuk memahami dinamika global maupun nasional agar gerakan yang dilakukan benar-benar memberikan solusi konkret bagi masyarakat,” tandasnya.mut











