44 PTN/PTS se Jatim ambil bagian pada Peksida 2026
Kota Malang, Bhirawa
Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur resmi digelar di Graha Cakra Universitas Negeri Malang (UM). Ajang bergengsi ini diharapkan tidak sekadar menjadi wadah kompetisi estetika, tetapi mampu bertransformasi menjadi motor penggerak industri kreatif sekaligus duta budaya di tingkat nasional.
Gubernur Jawa Timur, melalui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari ST MMA, menyampaikan pesan mendalam agar seluruh kontingen mampu memberikan penampilan terbaik yang membanggakan Jawa Timur di panggung nasional kelak.
”Gubernur berpesan agar para mahasiswa tetap menjunjung tinggi sportivitas, integritas, dan saling menghargai. Menang memang sebuah kebanggaan, namun proses berkarya, berkolaborasi, dan belajar bersama adalah nilai yang jauh lebih bermakna,” ujar Evy Afianasari saat pembukaan acara.
Pihak Pemprov Jatim juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada pimpinan perguruan tinggi, dosen pembimbing, pembina, serta pendamping yang terus konsisten mengawal mahasiswa dalam melestarikan budaya ali Indonesia.
”Matur nuwun, mari bersama-sama kita junjung tinggi budaya asli Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Hariyono MPd, mengajak seluruh pihak merenungkan kembali esensi kebudayaan Indonesia. Menukil pidato kebudayaan budayawan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1977 silam mengenai watak manusia Indonesia, Prof Hariyono mengingatkan pentingnya menonjolkan sisi positif bangsa melalui seni.
”Dari enam watak yang disebutkan Mochtar Lubis, lima di antaranya cenderung kurang positif seperti munafik, tidak bertanggung jawab, dan percaya tahayul. Namun, ada satu watak positif yang kita rayakan malam ini, yaitu memiliki estetika yang tinggi,” papar Prof Hariyono.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa ajang Peksimida yang diikuti oleh 44 kontingen ini bukan sekadar kompetisi biasa. Karya-karya seni, termasuk yang dianggap klasik, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri kreatif yang luar biasa jika dikelola dengan sinergis.
Rektor UM juga berharap agar tim juri dan panitia pelaksana tidak berhenti hanya pada pekan kompetisi ini saja. Mahasiswa yang berkompetisi di berbagai tangkai lomba diharapkan membentuk keterikatan kuat untuk bersama-sama membawa nama harum Jawa Timur.
”Jika ini konsisten dilakukan, bahkan ide-ide dari mahasiswa bisa disinergikan dengan berbagai pihak menjadi industri kreatif. Misalnya, saat ada pekan seni di Surabaya, adik-adik mahasiswa bisa tampil memukau wisatawan mancanegara,” lanjutnya.
Di akhir sambutannya, Prof Hariyono mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Ia berkaca pada sejarah bangsa Eropa yang dahulu bisa menguasai Nusantara karena memanfaatkan celah perbedaan lewat politik pecah belah (devide et impera).
”Kita harus belajar dari sejarah. Perbedaan itu kekayaan, dan ruang seni seperti Peksimida ini adalah tempat terbaik untuk membangun sinergi antar kekuatan mahasiswa, bukan justru terpecah,” mutgkasnya. mut










