Direktur Jenderal Produk Halal Kementerian Agama RI, H. Muhammad Fuad Nasar, S.Sos., M.Sc. Bersama Prof Sucipto (moderator) dan Direktur PT Ajinomoto Indonesia, Hermawan Prajudi saat berada di UB
Kota Malang, Bhirawa
Universitas Brawijaya (UB) mempertegas komitmennya dalam memperkuat ekosistem halal nasional melalui gelaran Indonesia Halal Ecosystem Summit & UB Halal Metric Awards 2026. Forum strategis yang mempertemukan akademisi, pemerintah, dan industri ini diselenggarakan di Auditorium Algoritma FILKOM UB, Selasa (5/5) kemarin.
Hadir sebagai pembicara utama, Direktur Jenderal Produk Halal Kementerian Agama RI, H. Muhammad Fuad Nasar, S.Sos., M.Sc. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa konsep halal kini telah bertransformasi melampaui aspek ibadah semata, melainkan telah menjadi instrumen ekonomi yang signifikan di era digital.
”Halal bukan hanya urusan ibadah, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas ekonomi, perdagangan, hingga digitalisasi yang semakin berkembang. Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem ini melalui regulasi Undang-Undang Jaminan Produk Halal hingga pembentukan BPJPH,” ujar Fuad Nasar.
Menurutnya, inklusivitas sertifikasi halal hingga ke tingkat daerah menjadi prioritas pemerintah. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, termasuk harmonisasi standar halal di tingkat global agar produk Indonesia diakui secara internasional.
”Kami ingin halal menjadi budaya dan gaya hidup, sehingga visi Halal Indonesia untuk Dunia benar-benar dapat terwujud melalui edukasi di lingkungan kampus,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur PT Ajinomoto Indonesia, Hermawan Prajudi, membagikan perspektif dari sisi industri. Ia menyatakan bahwa bagi pelaku manufaktur, halal bukan sekadar label tambahan, melainkan komitmen mutu sejak dari bahan baku hingga ke tangan konsumen.
”Halal adalah komitmen kualitas. Penguatan ekosistem ini memerlukan keterlibatan aktif regulator, industri, dan akademisi. Jika konsistensi terjaga, maka halal akan menjadi nilai tambah dan keunggulan kompetitif di pasar global,” jelas Hermawan.
Meski demikian, diskusi tersebut juga menyoroti tantangan nyata yang dihadapi pelaku UMKM, terutama pada sektor hulu seperti standarisasi alat dan bahan baku yang belum sepenuhnya sinkron dengan kriteria halal.
Melalui UB Halal Metric Awards 2026, Universitas Brawijaya berupaya menjembatani celah antara riset akademis, kebijakan pemerintah, dan praktik di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan sistem halal yang inklusif dan berdaya saing global di masa depan.mut










