PSIB UMM Dorong Penguatan Jurnalisme Profetik, Media Dituntut Beri Dampak Nyata bagi Publik

Malang, Bhirawa Derasnya arus informasi digital menuntut insan pers tidak hanya bertumpu pada kecepatan transmisi berita. Media massa dituntut mampu membantu publik membedah esensi masalah, menangkal disinformasi, serta menyajikan sudut pandang yang mencerahkan.

​Isu krusial tersebut mengemuka dalam kajian Islam multidisipliner yang dihelat Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertajuk Jurnalisme Profetik dan Ekosistem Media Emansipatif di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat 9/10..

​Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Roni Tobroni, M.Si., menegaskan bahwa jurnalisme profetik berpijak pada pilar kenabian: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Nilai-nilai ini mencegah produk jurnalistik sekadar berhenti pada pemaparan data kering, melainkan bertransformasi menjadi sarana pembebasan problem sosial dan penguat keimanan.

​”Bicara mengenai jurnalisme profetik, sebenarnya ini sudah dipraktikkan Muhammadiyah sejak awal,” ungkap Roni.

​Roni memaparkan, jejak literasi tersebut telah diinisiasi oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, melalui penerbitan Suara Muhammadiyah pada 1915. Media cetak bersejarah itu membuktikan bahwa pers sedari mula difungsikan sebagai instrumen pencerdasan umat secara tertib dan substansial.

​Di era transformasi digital, tantangan terbesar media adalah beradaptasi dengan pola konsumsi audiens tanpa tergelincir ke dalam jeratan sensasionalisme. Menurut Roni, isu viral sah-sah saja diangkat, asalkan dibedah dengan koridor nilai Islam Berkemajuan agar tidak memicu polarisasi publik. Selain itu, penguatan kelembagaan media afiliasi mulai dari aspek legalitas, kompetensi SDM, hingga kepekaan terhadap isu sosial umum menjadi kebutuhan mutlak.

​Pada kesempatan yang sama, Kepala Humas UMM sekaligus Ketua Departemen Kerja Sama dan Kehumasan PP Nasyiatul Aisyiyah, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menyoroti urgensi penyajian narasi publikasi persyarikatan. Menurutnya, kontribusi riil Muhammadiyah di ranah pendidikan, kesehatan, dan filantropi harus dikemas sesuai kebutuhan publik luas, bukan sekadar menjadi etalase laporan kegiatan internal.

​”Muhammadiyah banyak melakukan hal baik yang perlu dikemas dan disampaikan kepada masyarakat luas agar kemanfaatannya semakin dirasakan,” tegas Maharina.

​Penyampaian pesan yang kontekstual dan adaptif terhadap karakter platform digital diyakini mampu memantik gaung positif publik secara organik tanpa mereduksi akurasi informasi.

​Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menggarisbawahi peran strategis perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai episentrum pemikiran sekaligus lokomotif gerakan nyata. Baginya, dakwah emansipatif wajib berbuah kemaslahatan konkret di tengah kehidupan bermasyarakat.

​”Islam itu harus didakwahkan dan menghasilkan praktik nyata yang menyejahterakan umat manusia,” tandas Prof. Nazaruddin.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *