Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik Menyerahkan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi di Hardiknas
Kota Malang, Bhirawa
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mempertegas posisinya sebagai institusi pendidikan yang progresif. Dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2026, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazarudin Malik, menekankan pentingnya kampus bertransformasi menjadi Solution Center Excellence demi menjawab kompleksitas tantangan zaman.
Dalam amanatnya saat memimpin upacara di halaman helipad kampus setempat, Prof. Nazarudin menyampaikan bahwa visi Solution Center Excellence bukan sekadar slogan, melainkan komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik (service excellence) kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
”Institusi beserta sumber daya manusia di dalamnya harus mampu memberikan pelayanan berkualitas dan terbaik. Tidak hanya itu, kampus harus berperan sebagai strategic solution partner yang berfungsi sebagai inkubator talenta dan inovasi,” tegas Prof. Nazarudin, Sabtu (2/5) kemarin.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki mandat moral untuk melahirkan kekuatan baru dengan membentuk talenta muda yang inovatif. Harapannya, keberadaan kampus benar-benar menjadi solusi nyata bagi problematika yang dihadapi masyarakat, bukan justru menjadi beban baru.
Sejalan dengan semangat apresiasi, UMM juga memberikan penghargaan kepada sejumlah dosen dan karyawan berprestasi. Prof. Nazarudin menyebut bahwa tradisi ini merupakan bagian dari evaluasi tahunan untuk menjaga marwah prestasi di lingkungan Kampus Putih.
”Personal yang memiliki prestasi khusus di bidangnya inilah yang memperkuat citra solution center kita di mata publik,” tambahnya.
Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Rektor UMM juga menyoroti isu kejenuhan program studi (prodi) yang tengah hangat di dunia pendidikan tinggi. Secara tegas, ia menyatakan bahwa tidak ada bidang ilmu yang mengenal kata jenuh, sehingga wacana penutupan prodi karena alasan tersebut tidaklah relevan.
Ia mengkritisi pandangan sempit mengenai link and match yang hanya diukur dari keterserapan kerja secara linier. Menurutnya, orientasi pendidikan jauh melampaui sekadar mencetak tenaga kerja yang sesuai dengan ijazahnya.
”Pendidikan itu tidak sekadar link and match, tapi harus menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan hidup (life skill) dan kualitas untuk menjalankan seluruh aspek kehidupan yang bermartabat,” jelasnya.
Ia mencontohkan, lulusan pendidikan tidak melulu harus menjadi guru secara formal, karena esensi ilmu pendidikan sangat luas dan bisa diimplementasikan dalam berbagai profesi.
”Bidang ilmu itu tidak ada yang jenuh. Jika orientasi pendidikan hanya dikaitkan dengan satu profesi tertentu, maka maknanya menjadi sangat sempit. Siapapun kini memiliki peluang untuk menjadi pendidik dalam arti luas,” pungkasnya.mut











