Saat Pemuda Dunia ‘Jatuh Hati’ pada Budaya Malang Meniti Jejak Kreatif di FIB UB-UNESCO

Para pemuda dari berbagai dunia menjahit kembali benang-benang budaya lokal Malang untuk dipamerkan di etalase dunia

Kota Malang, Bhirawa

Bahasa boleh berbeda, namun binar mata puluhan pemuda dan akademisi lintas negara itu bicara hal yang sama: kekaguman. Di Aula Gedung A Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Senin (9/2), suasana tak terasa seperti ruang kuliah yang kaku. Gelak tawa dan diskusi akrab pecah saat mereka memulai petualangan dalam Global Youth Creative Residency Program 2026.

​Program ini merupakan buah kolaborasi apik antara FIB UB dengan UNESCO International Working Station. Misinya mulia: menjahit kembali benang-benang budaya lokal Malang untuk dipamerkan di etalase dunia. Bukan dengan teori di balik meja, melainkan dengan mengajak para peserta terjun langsung, merasakan debu jalanan, hingga aroma kain di sentra industri kreatif.

​Selama residensi, para peserta diajak “nyantri” budaya ke berbagai sudut Malang, mulai dari ketenangan di kawasan Ngajum hingga dinamika warga di Kranggan. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan langsung bagaimana tradisi tetap bernapas di tengah modernitas.

​Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa FIB UB enggan menjadi “menara gading” yang hanya menyimpan ilmu untuk diri sendiri. Baginya, budaya harus menjadi ruang dialog yang hidup.

​”Kami percaya bahwa pengalaman langsung di lapangan adalah bentuk pembelajaran budaya yang paling berdampak dan transformatif. FIB UB terbuka sebagai ruang dialog dan refleksi kritis atas budaya, kreativitas, dan masa depan kota di era digital,” tutur Sahiruddin dengan nada optimis.

Salah satu momen paling berkesan adalah saat para peserta menyambangi Batik Soendari. Di sana, jemari mereka yang terbiasa dengan gawai, mulai mencoba membuat cetakan batik dari kertas. Sebuah proses kreatif yang memadukan teknik modern dengan jiwa tradisi.

​Tak hanya urusan seni, lidah para tamu internasional ini pun “dimanjakan” dengan ragam kuliner khas Malang. Kehadiran akademisi dari kampus elit seperti Peking University hingga City University of Macao membuktikan bahwa daya tarik kearifan lokal Malang mampu memikat perhatian intelektual tingkat dunia.

Di balik keseruan di lapangan, program ini memiliki fondasi strategis yang kuat. Melalui pertemuan dengan International Academic Affairs (IAA) UB, FIB UB kini resmi menjadi simpul strategis bagi UNESCO International Working Station (IWS).

​Sahiruddin memaparkan, kolaborasi ini ke depan akan fokus pada penyelarasan agenda industri kreatif dan pengembangan model kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah serta masyarakat. Tujuannya satu: agar riset dan budaya bisa berdampak langsung pada kantong ekonomi kreatif warga lokal.

​”Program ini adalah langkah nyata diplomasi budaya. Kami ingin menjadikan budaya sebagai pilar pembangunan berkelanjutan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat Malang,” pungkasnya.

​Lewat program ini, Malang tak lagi sekadar titik di peta, melainkan rumah bagi inspirasi dunia yang terus bertumbuh. mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *