Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.S didampingi Rektor UM Prof Dr. Haryono MPd memberikan kuliyah Tamu di Gedung Rektorat UM
Kota Malang, Bhirawa
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bergerak cepat memperkuat ekosistem riset nasional agar mampu memberikan dampak ekonomi langsung pada sektor industri. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya agresif mendongkrak posisi Indonesia yang saat ini masih tertahan di peringkat ke-55 dunia dalam Global Innovation Index (GII).
Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menegaskan bahwa kunci utama untuk mengejar ketertinggalan tersebut adalah percepatan keterkaitan (link and match) antara hasil riset akademis dan kebutuhan nyata dunia usaha. Komitmen tersebut disampaikannya di hadapan civitas akademika dalam Kuliah Umum Riset Nasional yang digelar di Aula Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (3/7).
”Fokus utama kita adalah meningkatkan skor GII sebagai tolok ukur kemajuan bangsa. Riset tidak boleh lagi hanya berhenti di laci perpustakaan, melainkan harus berdampak langsung pada hilirisasi dan industrialisasi,” tegas Prof. Arif.
Sebagai jembatan penghubung dunia akademik dan sektor industri, BRIN mendorong perguruan tinggi untuk aktif membangun Science Techno Park (STP) di dalam kawasan kampus. Tidak hanya di level universitas, penguatan ekosistem inovasi ini juga menyasar level pemerintah daerah melalui program inovatif bertajuk Rumah Inovasi Daerah.
Prof. Arif menjelaskan, mengingat pemerintah provinsi umumnya tidak memiliki laboratorium atau peneliti mandiri, maka kekuatan utama riset daerah mutlak berada di tangan perguruan tinggi besar. Di Jawa Timur, kolaborasi ini bertumpu pada kesiapan kampus-kampus kelas dunia seperti UM, UB, ITS, dan Unair.
Sebagai langkah konkret, BRIN telah menetapkan agenda strategis pada akhir tahun ini. Pada September mendatang, bakal diluncurkan secara resmi Rumah Inovasi Indonesia sebagai pusat integrasi ekosistem inovasi nasional. Pasca-September, akan dilanjutkan dengan peresmian bertahap Rumah Inovasi Daerah di berbagai provinsi, dengan fokus awal pada kesiapan wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat.
Guna mendukung sinergi besar ini, BRIN menyiapkan skema dukungan SDM dan pendanaan komprehensif. Mulai dari program magang mahasiswa (S1), post-doctoral (S3), beasiswa Doctor by Research, hingga kucuran dana hibah RIM (Riset Inovasi untuk Indonesia Maju) Merah Putih.
Ke depan, arah riset tematik nasional di bawah naungan BRIN akan difokuskan secara ketat pada dua sektor krusial, yakni sektor pangan dan sektor dirgantara/transportasi. Sektor pangan menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi genomics demi menciptakan varietas benih unggul guna memangkas ketergantungan impor bawang putih dan kedelai.
Sementara sektor dirgantara fokus pada pengawalan penyempurnaan pesawat amfibi (N219) untuk memperkuat konektivitas wilayah kepulauan, serta optimalisasi teknologi drone guna efisiensi sektor pertanian modern dan logistik nasional.
Merespons hal itu, Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Haryono, M.Pd., menyatakan kesiapan penuh institusinya untuk merealisasikan visi besar BRIN tersebut. Sebagai bukti konkret, UM tengah menggodok dua program inovasi unggulan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan riil masyarakat luas.
Di bidang pendidikan, UM tengah mengembangkan sistem pembelajaran berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang adaptif demi memajukan mutu pendidikan di daerah terpencil. Sementara di bidang lingkungan, tim peneliti UM berfokus pada riset pemanfaatan air hujan agar dapat diolah menjadi air minum layak konsumsi.
”Teknologi sederhana tepat guna ini diharapkan mampu menjadi solusi ganda, yakni menekan risiko bencana banjir sekaligus mengatasi krisis penyediaan air bersih, khususnya untuk wilayah padat seperti Jakarta dan kawasan urban di Kalimantan,” tandas Prof. Haryono.mut





