Tips Romantis Menjalani Ibadah Haji Bersama Pasangan, Sekda Khusna : Kunci Utamanya Kompak dan Saling Menguatkan

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Blitar, Hj. Khusna Lindarti, S.Sos., M.Si.,  bersama sang suami, H. Bambang Priyadi,

Blitar, Bhirawa

Menjalani ibadah haji bersama pasangan hidup menjadi impian besar bagi setiap keluarga Muslim. Namun, di balik kekhusyukan dan kebahagiaan spiritual tersebut, terhampar berbagai tantangan nyata di lapangan yang menuntut kekompakan, kesabaran, serta saling pengertian yang mendalam antara suami dan istri.

​Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Blitar, Hj. Khusna Lindarti, S.Sos., M.Si., didampingi sang suami, H. Bambang Priyadi, saat ditemui di kediamannya di kawasan Tegal Rejo, Kecamatan Selopuro, Wlingi. Perempuan berhijab yang dikenal sebagai birokrat tangguh sekaligus hangat ini baru saja menyelesaikan perjalanan ibadah haji ke Tanah Suci bersama belahan jiwanya.

​Di tengah kesibukannya menakhodai seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkab Blitar, Khusna Lindarti dikenal sebagai sosok ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya hingga mandiri, sekaligus seorang istri yang selalu menjaga keharmonisan rumah tangga. Ibu dari tiga anak ini memang dikenal pandai membagi waktu antara perannya sebagai pucuk pimpinan birokrasi, seorang ibu, dan seorang istri.

​Di sela waktu senggangnya yang padat, membaca buku-buku bertema manajemen kepemimpinan dan memasak hidangan favorit keluarga menjadi hobi yang sering ia lakukan untuk menyegarkan pikiran. Karakter kepemimpinannya yang humanis dan terstruktur ini tidak lepas dari latar belakang pendidikannya sebagai alumni program Sarjana (S1) Ilmu Sosiatri di Universitas Jember (UNEJ) dan kemudian menuntaskan program Magister (S2) Ilmu Administrasi Publik di Universitas Brawijaya (UB) Malang.

​Sebelum dipercaya dan dilantik sebagai Sekretaris Daerah definitif, rekam jejak kariernya cukup panjang di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar, termasuk saat ia sukses memimpin sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Blitar.

​ Sekda Khusna membagikan pengalaman unik dan tips menjalani ibadah haji bersama suami, mulai dari dinamika saat berada di Madinah hingga momen-momen romantis nan penuh magis spiritual di Tanah Suci. Menurutnya, ritme dan semangat suami dalam beribadah memiliki karakter tersendiri, sehingga dibutuhkan komitmen kuat untuk tetap berjalan beriringan.

​”Suami itu memang semangat beribadahnya luar biasa. Tetapi sebagai pasangan, kita tidak hanya punya misi untuk sekadar sampai ke Tanah Suci, melainkan bagaimana seluruh rangkaian ibadah bisa dilakukan bersama-sama, saling mendampingi, dan menikmati perjalanan suci ini berdua,” ungkapnya.

​Ia menjelaskan, salah satu tantangan terbesar justru langsung menguji mereka sejak awal berada di Kota Madinah. Sistem akomodasi dan kondisi lapangan yang ketat sering kali membuat pasangan suami istri tidak bisa selalu bersama sepanjang waktu.

​”Di Madinah itu tantangannya cukup besar. Kami tidak mungkin selalu sekamar, meskipun berada di satu hotel yang sama. Bahkan untuk janjian bertemu saja kadang sulit karena situasi arus jamaah yang padat. Di sinilah ujian komunikasi dan kesabaran kita dimulai agar tetap bisa saling menjaga,” tuturnya.

​Kondisi ini berbeda dengan atmosfer di Makkah. Menurut Khusna, suasana di Kota Kelahiran Nabi memberikan ruang yang lebih luas bagi pasangan untuk menjalani ibadah bersama, mulai dari pelaksanaan tawaf, salat berjamaah, hingga aktivitas harian menuju Masjidil Haram.

​”Kalau di Makkah, alhamdulillah masih sangat mungkin untuk selalu bersama. Kami bisa tawaf bersama, berjalan kaki ke masjid beriringan, dan melakukan ibadah dengan lebih leluasa. Itu menjadi momen yang sangat indah, dan kalau boleh dibilang, di situlah letak romantisnya, karena semuanya dilakukan atas dasar cinta dan ibadah kepada Allah SWT,” katanya sambil tersenyum hangat.

​Lebih lanjut, perempuan yang gemar berdiskusi ini menekankan pentingnya menanamkan kesadaran bahwa suami istri adalah satu tim yang solid selama di Tanah Suci. Kondisi fisik yang lelah dan dinamika lapangan yang menguras energi harus dihadapi dengan kepala dingin dan ego yang ditekan, bukan dengan saling menyalahkan.

​”Kita harus menyadari bahwa kita ini satu kesatuan. Apa pun kondisinya, tantangan pasti ada. Kalau mental tidak siap dan tidak ada ruang untuk saling memahami, hal-hal kecil bisa memicu persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi,” jelas Sekda perempuan pertama di Blitar tersebut.

​Salah satu momen paling membekas bagi Khusna adalah ketika ia terpisah dari sang suami di area ibadah karena pemisahan jalur masuk jamaah laki-laki dan perempuan. Saat itu, ia membawa sepatu suaminya dan sempat merasa waswas di tengah lautan manusia.

​Melihat banyak jamaah dari berbagai belahan dunia menangis dan berdoa dengan khusyuk di sekitarnya, Khusna pun larut dalam kepasrahan spiritual yang mendalam.

​”Saat melihat orang-orang menangis, saya tergerak untuk memasrahkan semuanya kepada Allah. Saya berpikir, saya juga ingin berdoa sekhusyuk mereka. Saya pun berdoa dengan sangat khusyuk di depan pintu pemisah tersebut,” kenangnya.

​Keajaiban kecil pun terjadi pascadoa dipanjatkan. Dari kejauhan di balik batas pembatas, ia melihat sosok sang suami, H. Bambang Priyadi, melambaikan tangan ke arahnya.

​”Setelah selesai berdoa, tiba-tiba saya melihat suami melambai dari kejauhan. Rasanya luar biasa bahagia, seperti doa saya langsung dijawab kontan oleh Allah saat itu juga,” ucapnya penuh haru.

​Bagi Hj. Khusna Lindarti, perjalanan haji bukan sekadar ritual ibadah pribadi, melainkan sebuah madrasah cinta dan kebersamaan yang menempa hubungan suami istri dengan nilai kesabaran, pengorbanan, dan ketulusan.

​Ia berharap pengalamannya mendampingi suami sekaligus menjalankan amanat sebagai pimpinan birokrasi ini dapat menginspirasi pasangan suami istri lainnya yang bersiap berangkat ke Tanah Suci untuk selalu menjaga kekompakan.

​”Niatnya harus ditata bersama sejak dari rumah. Saling menguatkan, dan yakinlah bahwa setiap ujian di Tanah Suci adalah cara Allah untuk mendewasakan serta mempererat ikatan pernikahan kita,” pungkas Khusna.mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *