UM Pasang Teknologi Forecasting untuk Perkuat Kesiapsiagaan Banjir di Bulukerto Batu

Batu, Bhirawa– Universitas Negeri Malang (UM) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi banjir melalui pemasangan alat forecasting atau prakiraan cuaca di Desa Bulukerto dan Desa Sumbergondo, Kota Batu.

Program pengabdian kepada masyarakat yang didanai Hibah Internal UM itu disosialisasikan kepada perangkat desa dan warga kedua wilayah pada Jumat, akhir pekan kemarin. Kegiatan ini melibatkan Politeknik Negeri Malang (Polinema) sebagai mitra pengembangan teknologi serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Bulukerto dan Desa Sumbergondo sebagai mitra lokal.

Alat forecasting dipasang di titik perbatasan Desa Bulukerto dan Desa Sumbergondo. Lokasi tersebut dipilih karena kedua desa memiliki kedekatan geografis serta keterkaitan aliran air yang berpengaruh terhadap kondisi hidrologi, khususnya di Bulukerto.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UM, Annisya’, M.Pd., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM, mengatakan program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memperoleh informasi cuaca dan potensi peningkatan curah hujan secara lebih cepat.

Informasi dari alat itu diharapkan menjadi dasar pertimbangan bagi desa dan masyarakat dalam menentukan langkah mitigasi, termasuk meningkatkan kesiapsiagaan maupun evakuasi ketika risiko banjir meningkat.

“Teknologi ini tidak hanya diperkenalkan sebagai perangkat pemantauan cuaca, tetapi juga sebagai bagian dari sistem peringatan dini berbasis masyarakat,” ujar Annisya’ dalam kegiatan tersebut.

Sebelum pelaksanaan program, Tim Pengabdian UM telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa Bulukerto dan Desa Sumbergondo pada 29 Juni 2026. Koordinasi dilakukan untuk memastikan kesiapan mitra sekaligus menyusun teknis pelaksanaan pemasangan dan sosialisasi alat.

Setelah itu, UM menggandeng Polinema untuk merancang dan mengembangkan perangkat forecasting cuaca. Dalam kegiatan sosialisasi, peserta mendapat penjelasan mengenai fungsi alat, proses pengumpulan data cuaca, hingga pemanfaatan hasil pengukuran dalam pengambilan keputusan di tingkat desa.

Warga dan perangkat desa juga mengikuti demonstrasi pengoperasian alat. Melalui demonstrasi tersebut, peserta diperlihatkan cara perangkat memantau kondisi cuaca serta mengenali indikasi peningkatan curah hujan yang dapat memicu risiko banjir.

Desa Bulukerto menjadi sasaran utama program karena memiliki riwayat kerawanan banjir saat musim penghujan. Penguatan sistem pemantauan ini juga menjadi bagian dari upaya mencegah dampak kejadian serupa banjir bandang yang pernah melanda wilayah tersebut pada 2021.

Banjir bandang kala itu menimbulkan kerugian ekonomi, kerusakan lingkungan, dan kerusakan sejumlah fasilitas desa. Karena itu, keberadaan alat *forecasting* diharapkan mampu mempercepat akses informasi dan memperkuat respons warga sebelum bencana terjadi.

Kepala desa dan perangkat dari Bulukerto maupun Sumbergondo menyambut positif program tersebut. Mereka berharap kegiatan tidak berhenti pada pemasangan perangkat dan sosialisasi awal, melainkan dilanjutkan dengan pendampingan berkala.

 

Pendampingan dinilai penting agar masyarakat, FPRB, dan perangkat desa mampu mengoperasikan serta merawat alat secara mandiri dalam jangka panjang.

Kolaborasi UM, Polinema, pemerintah desa, FPRB, dan warga diharapkan membentuk sistem peringatan dini yang lebih responsif terhadap kondisi lokal. Program tersebut juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama SDGs 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan serta SDGs 13 terkait penguatan adaptasi dan kesiapsiagaan terhadap dampak perubahan iklim.

Melalui pengabdian kepada masyarakat ini, UM menegaskan komitmennya dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan keselamatan serta ketangguhan masyarakat di wilayah rawan bencana.mut

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed