Dr. Sri Untari Bisowarno MAP menerima audiensi dari pengurus Paguyuban Aksara Jawa asal Kota Surabaya
Surabaya Bhirawa
Eksistensi aksara Jawa (Hanacaraka) sebagai salah satu warisan budaya adiluhung Nusantara kini mendapatkan angin segar. Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP, mendorong penuh agar pengenalan dan pembelajaran aksara Jawa dioptimalkan menjadi materi muatan lokal (mulok) wajib bagi siswa-siswi jenjang SMA dan SMK di seluruh Jawa Timur.
Dukungan kuat ini disampaikan Sri Untari usai menerima audiensi dari pengurus Paguyuban Aksara Jawa asal Kota Surabaya di ruang kerjanya, selepas agenda Rapat Paripurna DPRD Jatim. Rombongan pegiat budaya tersebut dipimpin langsung oleh Mas Taufik Monyong, tokoh seni yang juga mantan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT).
Dalam pertemuan hangat tersebut, Sri Untari mengapresiasi hasil riset mendalam yang dilakukan oleh Mas Taufik di berbagai negara maju terkait korelasi aksara dan karakter bangsa.
”Negara-negara seperti Jepang, Korea, Cina, India, hingga Rusia bisa tumbuh menjadi bangsa yang sangat tangguh karena mereka teguh mempertahankan identitasnya. Mereka tidak mau menggunakan aksara yang bukan milik asli leluhur mereka,” ujar Sri Untari mengutip sari pati hasil riset tersebut.
Berangkat dari kesadaran itulah, politisi perempuan asal Malang ini menilai masyarakat Jawa sudah sepatutnya mengenali kembali huruf-huruf asli peninggalan leluhur. Menurutnya, aksara Jawa bukan sekadar deretan simbol, melainkan representasi identitas budaya, karakter, dan peradaban tinggi yang telah hidup ratusan tahun di bumi Nusantara.
Guna mempermudah generasi muda dalam mempelajari aksara Jawa yang sering dianggap rumit, Paguyuban Aksara Jawa mengenalkan metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan.
Mereka menciptakan media belajar berupa kartu permainan yang menyerupai konsep kartu tarot atau kartu remi. Di dalam kartu tersebut, disisipkan huruf-huruf Hanacaraka beserta simbol-simbol pendukungnya agar siswa bisa belajar sambil bermain.
”Metode bermain ini sangat bagus karena membuat proses belajar menjadi jauh lebih mudah, cepat, dan interaktif bagi anak-anak kita,” puji Sri Untari.
Gayung bersambut, komitmen Komisi E DPRD Jatim untuk mengawal pelestarian bahasa dan aksara Jawa ini ternyata telah didukung oleh payung hukum yang kuat dari pemerintah provinsi.
Dalam audiensi yang turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Pendidikan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim tersebut, terungkap bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menerbitkan regulasi khusus yang mengatur hal ini.
”Pihak Dinas Pendidikan Jatim menyampaikan bahwa langkah ini sebenarnya sudah sangat selaras (matching) dengan regulasi kita, yaitu Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 36 Tahun 2024,” jelas Sri Untari.
Regulasi tersebut secara spesifik mengatur tentang kurikulum muatan lokal bahasa dan aksara Jawa untuk diajarkan secara terstruktur di sekolah-sekolah di Jawa Timur.
Aksara sebagai Indikator Peradaban Tinggi
Di akhir penjelasannya, legislator yang juga aktif di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat ini menekankan bahwa kemampuan menulis dan membaca aksara daerah merupakan indikator kemajuan peradaban sebuah bangsa.
”Seni tulis adalah bukti autentik bahwa suatu bangsa memiliki kebudayaan yang sangat tinggi. Dengan mengenali kembali aksara kita, kita menjaga agar jati diri, karakter, dan kebudayaan kita tidak mudah bergeser atau hilang tergerus perkembangan zaman,” pungkas Sri Untari optimistis.mut





