Wamendiktisaintek Stella Christie Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI: Bisa Kikis Nalar Kritis Mahasiswa

Malang, Bhirawa-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, Ph.D., mengingatkan seluruh sivitas akademika, khususnya kalangan mahasiswa, agar tidak terlena dan terlampau bergantung pada teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Imbauan tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum serangkaian Lustrum XIII Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) di Auditorium Pandhita Majapahit UB, Senin 19/10.

​Prof. Stella memaparkan bahwa lompatan teknologi AI berlangsung secara eksponensial, bukan linier. Ia mengibaratkannya dengan kisah legenda catur dan penggandaan butir beras di 64 kotak papan catur yang berakhir pada angka fantastis hingga 18,4 kuintiliun butir.

​”Manusia sering kali tidak memiliki intuisi terhadap pertumbuhan eksponensial. Awalnya terlihat lambat, tetapi tiba-tiba melonjak sangat cepat dan melampaui kemampuan adaptasi kita,” tutur Prof. Stella di hadapan ribuan mahasiswa UB.

​Sebagai seorang ilmuwan kognitif (cognitive scientist), Stella merinci empat fase tantangan kemampuan AI. Tahapan tersebut bergerak dari aturan kaku berdampak kompleks seperti catur dan permainan Go yang telah dikuasai sejak 2015, ujian terbuka serta olimpiade sains, hingga pemecahan riset kreatif seperti pelipatan protein (protein folding) yang diproyeksikan tuntas pada rentang 2027–2030.

​Kendati demikian, Stella menekankan level paling rumit yang belum mampu dijawab AI adalah memahami asumsi serta preferensi etika manusia yang tidak tertulis (unspoken assumptions). Ia mencontohkan instruksi pada kendaraan otonom yang diminta melaju secepat mungkin menuju bandara, tetapi berisiko mencelakai pengguna jalan lain akibat ketiadaan kepekaan norma keselamatan manusia.

​Data global memperlihatkan bahwa pengguna di Indonesia menempati urutan pertama di dunia dalam adopsi AI untuk keperluan pendidikan, mengungguli negara maju seperti Amerika Serikat dan Belanda. Namun, tingginya angka penetrasi ini berpotensi membawa konsekuensi serius terhadap ketajaman berpikir generasi muda.

​Guna memperkuat pandangannya, Stella membeberkan sejumlah data dan riset empiris internasional. Berdasarkan kajian OECD, siswa yang rutin menggunakan AI setiap hari justru mengalami penurunan skor sains yang signifikan dibandingkan mereka yang tidak memakainya.

​Riset kolaborasi MIT, Harvard University, dan Wellesley College turut mengonfirmasi bahwa esai mahasiswa yang dikerjakan murni mengandalkan pemikiran mandiri (brain only) memiliki mutu akademik terbaik. Sebaliknya, kelompok mahasiswa yang sepenuhnya mengandalkan AI menghasilkan karya dengan kualitas paling rendah. Temuan serupa dari University of Pennsylvania dan NYU menunjukkan bahwa membaca ringkasan AI memang memangkas waktu, tetapi menurunkan kedalaman penguasaan fakta materi secara drastis.

​Gejala penurunan kapabilitas akibat ketergantungan teknologi ini bahkan mulai merambah sektor profesional. Kajian di bidang medis mencatat akurasi dokter dalam mendeteksi polip merosot dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen hanya dalam tempo tiga bulan setelah terbiasa mengandalkan bantuan AI.

Stella menegaskan bahwa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tidak melarang adopsi kecerdasan buatan, melainkan menuntut perguruan tinggi untuk tetap berdiri kukuh sebagai benteng integritas intelektual.

​”Pemerintah tidak melarang penggunaan AI, tetapi mahasiswa dan akademisi harus bijak. Jangan sampai alat bantu teknologi ini justru mengikis daya nalar kritis, tradisi riset mandiri, serta kedalaman pemikiran kita,” pungkasnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *